RAGAM HIAS SUMATERA UTARA


Ragam Hias Sumatera Utara
A.    Pengertian Ragam Hias
Ragam hias adalah bentuk dasar hiasan yang biasanya akan menjadi pola yang diulang-ulang dalam suatu karya kerajinan atau seni. Karya ini dapat berupa tenunan, tulisan pada kain (misalnya batik), songket, ukiran, atau pahatan pada kayu/batu. Ragam hias dapat distilisasi (stilir) sehingga bentuknya bervariasi.


Baca Juga :


B.     Fungsi-Fungsi Ragam Hias Di Masyarakat
1.      Fungsi jender, yakni disesuaikan dengan jenis kelamin.
2.      Fungsi daur hidup, yakni  menjadi kebutuhan esensial dan memiliki ajaran-ajaran adat isitadat sekaligus menggambarkan perjalanan hidup manusia.
3.      Fungsi religi, yakni dipakai untuk keperluan keagamaan.
4.      Fungsi  simbolik, yakni merupakan wujud penuturan gagasan dalam bentuk simbolik yang mensyaratkan filosofi adat
5.      Fungsi pusaka, yakni merupakan warisan turun-temurun.
            

C.    Makna Ragam Hias Sumatera Utara
1.      Makna Singa-Singa
Singa tidak mengartikan si binatang buas. Singa mengandung arti rangkaian. Paningaon dimaknai sebagai kemampuan seseorang melakukan sesuatu. Totalitas perencanaan dan pembangunan rumah batak dan segala arti yang dikandungnya adalah kemampuan dalam pengertian paningaon. 

Segala bentuk alamiah dan makna diterjemahkan dalam bentuk ukiran yang indah. Penggambaran mahluk hidup dalam bentuk ukiran adalah bagian paningaon dan hasil seninya disebut singa-singa
2.      Makna Gurdong dan Lunjung.
Kedua nama ini adalah jenis belalang. Ada hal menarik bagi para leluhur batak tentang belalang ini saat mereka mencari filosofi hidup walau sudah mati. Belalang lebih banyak diam daripada bergerak, apalagi terbang. 

Belalang jarang menggerakkan kepalanya tanpa mengikutkan tubuhnya. Yang paling unik dalam temuan mereka adalah bila belalang mati kelihatannya seperti hidup. 

Ada dua hal yang membuat manusia sulit menebak hidup atau mati belalang bila hanya dari kejauhan. Pertama, belalang banyak diamnya. Kedua, bila mati, kepalanya tidak terkulai dan badannya tidak terjerembab. 

Metmet pe sihapor, dijujung do simanjujungna. Walau belalang kecil, kepalanya tetap dijunjung. Ini berbeda dengan gajah, singa, harimau dan banyak jenis binatang lainnya yang bila sudah mati sangat jelas dalam pandangan mata.
Manusia batak memiliki pengharapan hidup setelah mati. Selain roh, arwah menjadi sahala, juga nama besar yang hidup setelah badannya mati. Pengharapan itu diukirkan dalam seni pahat pangganaon, dan filosofi hidup dan mati belalang itu dituanggan dalam paningaon yang memberikan makna kepada manusia agar kelak setelah mati akan tetap hidup, dalam arti nama baik dan kebesarannya semasih hidup.
Seni pahat pangganaon dan pemahaman makna paningaon membentuk ukiran berbentuk kepala belalang dalam sisi kiri dan kanan rumah batak. Dalam rumah diukir replikan belalang yang kepalanya runcing yang disebut sihapor lunjung. Pada sopo dibuatkan ukiran belalang yang kepalanya bulat yang disebut sihapor gurdong. 
3.      Makna Ayam Betina.
Dimana manusia betah tinggal dan mendapatkan keteduhan, kehangatan, kenyamanan dan keamanan, itulah rumahnya. Leluhur batak menggambarkan seekor ayam betina yang melindungi anak-anaknya yang masih bayi dalam lorong tubuhnya yang diselimuti bulu tebal dan terlindung dengan sayap yang kokoh.
Rumah batak dibentuk seperti ayam betina yang melindungi anak-anaknya. Dipuncak mercu dibuat ulu paung kepala bermahkota dihiasi jengger seperti ayam. Banyak pemahaman leluhur batak yang dituangkan dalam seni arsitektur yang memberi makna kehidupan kepada manusia.


Artikel Terkait

1 comment: