Sejarah Candi Borobudur dan Candi Mendut



Sejarah Candi Borobudur
 
candi Borobudur


Menilik sejarah candi Borobudur maka terdapat berbagai teori, ada yang berdasarkan etimologi adapula yang berdasarkan prasasti. Sejarah candi borobudur apabila berdasarkan etimologi,  nama borobudur kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara yang artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras.


Baca Juga :

Selain itu ada juga yang menyatakan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha”  karena pergeseran bunyi berubah menjadi borobudur. Pendapat lain menyatakan bahwa nama borobudur berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. 

Dimana kata bara konon berasal dari kata vihara, sedangkan dalam bahasa Sansekerta artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau dalam bahasa Bali berarti “di atas”. Sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejararah candi borobudur apabila berdasarkan prasasti, maka terdapat prasati yang menjadi rujukan yaitu prasasti Karangtengah yang diteliti oleh J.G. de Casparis (seorang ahli arkeologi Belanda, berjasa mengubah sikap pemerintah Indonesia yang dahulunya menganggap remeh bidang arkeologi untuk dijadikan bahan pengajaran tentang sejarah awal dan arkeologi di Indonesia).

J.G. de Casparis berpendapat yang membangun candi Borobudur dibangun sekitar tahun 824 M, oleh raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga.
Dalam prasasti Karangtengah disebutkan juga mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamilin yang disebut Bhimisambhira.

Istilah Kamilin sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhimi Sambhira Bhudhira dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur. 

Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. 





Sejarah Candi Mendut


Candi Mendut

J.G. de Casparis berpendapat berdasarkan prasasti Karangtengah bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut. 

Berdasarkan  pendapat J.G. de Casparis, maka diperkirakan Candi Mendut didirikan sekitar tahun 800 M juga. Ada juga data lain yang dapat digunakan sebagai penanggalan Candi mendut, ditemukannya tulisan pendek (bagian dari mantra Budhis) yang diduga berasal dari bagian atas pintu masuk. 

Dari segi paleografis tulisan tersebut ada persamaan dengan tulisan-tulisan pendek pada relief Karmawibhangga di Candi Borobudur sehingga diduga Candi Mendut sezaman dengan Borobudur dan mungkin lebih tua.

Di bilik utama candi Mendut terdapat 3 buah arca yang menurut para ahli arca-arca tersebut diidentifikasi sebagai Cakyamuni yang diapit oleh Bodhisatwa, Lokeswara dan Bajrapani. 

Dalam kitab Sang Hyang Kamahayanikan disebutkan bahwa realitas yang tertinggi (advaya) memanifestasikan dirinya dalam 3 dewa (Jina) yaitu : Cakyamuni, Lokesvara, dan Bajrapani. Candi Mendut dibangun untuk memuliakan leluhur-leluhur Syailendra.

Sebagai candi yang bersifat Budhistist, relief-relief di Candi mendut juga berisi cerita-cerita ajaran moral yang biasanya berupa cerita-cerita binatang yang bersumber dari Pancatantra dari India.  Yang mana inti ceritanya adalah ajaran tentang sifat kesombongan yang akan mencelakakan diri sendiri.


Dari Berbagai Sumber

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment