4 Masa Perkembangan Islam pada Abad Klasik

perkembangan islam abad klasik

Perkembangan Islam pada abad klasik bertarikh tahun 650 sampai dengan 1250 M. Abad klasik terbagi atas 4 masa, yaitu :
1.   Masa Nabi Muhammad SAW
2.   Masa Khulafaur Rasyidin
3.   Masa Dinasti Umayah
4.   Masa Dinasti Abasiyah.


A.Perkembangan Islam Masa Nabi Muhammad SAW

Perkembangan Islam masa Nabi Muhammad SAW dibagi menjadi dua periode, yaitu Periode Mekah dan Periode Madinah

1.  Periode Mekkah

Pada periode ini Nabi Muhammad SAW fokus pada penanaman keimanan masyarakat dengan cara berdakwah. Nabi Muhammad SAW berdakwah dengan tiga cara, yaitu:

a)   Rahasia.
Nabi Muhammad SAW menyebarkan Agama Islam hanya pada kalangan keluarganya sendiri dan teman dekatnya.

b)   Semi Rahasia.
Nabi Muhammad SAW menyebarkan Agama Islam dalam ruang lingkup yang lebih luas, termasuk Bani Muthalib dan Bani Hasyim.

c)   Terang-Terangan
Nabi Muhammad SAW menyebarkan Agama Islam secara terang-terangan ke segenap lapisan masyarakat, baik kaum bangsawan maupun hamba sahaya


Upaya Nabi Muhammad SAW menyebarkan Agama Islam mendapat penentangan dari kaum kafir Quraisy. Hal tersebut dikarenakan :
1)    Bidang Politik Kekuasaan.
Kaum kafir Quraisy menyangka bahwa tunduk kepada seruan Nabi Muhammad SAW berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib.

2)    Sosial (persamaan derajat sosial).
Kaum kafir Quraisy menolak persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.

3)    Agama dan Keyakinan.
Kaum kafir Quraisy tidak menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat.

4)    Budaya.
Kaum kafir Quraisy sangat berat untuk meninggalkan agama nenek moyang mereka

5)    Ekonomi.
Kaum kafir Quraisy yang berprofesi sebagai pemahat dan penjual patung, memandang Islam sebagai penghalang rezeki.


Pada periode ini yang menerima dakwah beliau, mula-mula istri beliau sendiri (Khadijah) lalu disusul kemudian oleh :
1)   Ali Bin Abi Thalib (keponakan beliau)
2)   Abu Bakar (sahabat beliau)
3)   Zaid (bekas budak beliau)



Selain itu dengan perantaraan Abu Bakar banyak orang yang masuk Islam. Mereka ini disebut Assabiqunal Awwalun(orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam), mereka adalah :










2.  Periode Madinah

madinah tempo dulu

Pada periode inipengembangan Islam lebih ditekankan pada dasar-dasar pendidikan masyarakat Islam dan sosial kemasyarakatan.

Adapun dasar-dasar masyarakat Islam yang diterapkan di Madinah diantaranya ialah:
a.   Mendirikan Masjid
Masjid ini memegang peranan penting untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempererat tali ukhuwah Islamiyah.

b.   Mempersatukan dan mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin
Dengan cara mempersaudarakan kedua golongan ini, Rasulullah saw telah menciptakan suatu pertalian yang berdasarkan agama pengganti persaudaraan yang berdasar kesukuan seperti sebelumnya.

c.   Perjanjian saling membantu antara sesama kaum muslimin dan bukan muslimin untuk menciptakan toleransi antargolongan.

Isi perjanjian tersebut antara lain sebagai berikut :
1)   Pengakuan atas hak pribadi keagamaan dan politik

2)   Kebebasan beragama terjamin untuk semua umat

3)   Adalah kewajiban penduduk Madinah, baik muslim maupun nonmuslim, dalam hal moril maupun materiil. Mereka harus bahu membahu menangkis semua serangan terhadap kota mereka(Madinah)

4)   Rasulullah adalah pemimpin umum bagi penduduk Madinah. Kepada beliaulah dibawa segala perkara dan perselisihan yang besar untuk diselesaikan

d.   Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi dan sosial untuk masyarakat yang baru terbentuk.


Sebab utama Rasulullah SAW besama para sahabat melakukan hijrah ke Madinah, yaitu :

a)     Perbedaan iklim di kedua kota mempercepat dilakukannya hijrah.
Iklim Madinah lembut dan watak rakyatnya yang tenang sangat mendorong penyebaran dan pengembangan agama Islam. Sedangkan kota Mekah sebaliknya.

b)     Nabi-Nabi umumnya tidak dihormati di negara-negaranya, sehingga Nabi Muhammad pun tidak diterima oleh kaumnya sendiri

c)     Tantangan yang Nabi Muhammad hadapi tidak sekeras di Mekkah


Peperangan pada Masa Nabi Muhammad SAW
Perang dalam Islam diartikan sebagai qitalu al-kuffari fi sabilillahi li i’lai kalimatillah

Artinya  ”memerangi orang-orang kafir dijalan Allah dalam rangka meninggikan kalimat Allah”.

Perang adalah mengangkat senjata untuk melawan atau memerangi orang-orang kafir dalam rangka membela kehormatan Islam dan kaum Muslimin.
peperangan di masa nabi Muhammad SAW

Peperangan pada Masa Nabi Muhammad, antara lain :

1)    Perang Badar

2)    Perang Uhud

3)    Perang Khandaq

4)    Perang Mu’tah



7)    Perang Tha’if

8)    Perang Tabuk

9)    Perang Widan



Selain beberapa perang tersebut, ahli sejarah pun telah menyebutkan beberapa sariyah (perang yang dipimpin oleh sahabat atas penunjukan Nabi Muhammad SAW) dalam sejarah islam, diantaranya :
1)   Sariyah Hamzah Bin Abdul Muthalib
2)   Sariyah Ubaidah Bi Haris
3)   Sariyah Qirdah
4)   Sariyah Bani Asad
5)   Sariyah Raji’
6)   Sariyah Bi’ru Mau’nah.
7)   Sariyah Ijla’ Bani Nadir
8)   Sariyah Zi Al-Qissah

9)   Sariyah Ka’b Bin Umair Al-Gifari 


Surat-Surat Dakwah Nabi Muhammad SAW
Menurut sejarawan Islam, Muhammad Bin Sa’ad dalam kitabnya Ath-Thabaqat Al-Kubra bahwa surat-surat Nabi keseluruhannya berjumlah tidak kurang dari 105 buah. 
surat nabi Muhammad SAW

Surat-surat tersebut jika dilihat dari segi isinya, dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yakni :

1)   Surat-surat yang berisi seruan untuk masuk Islam.
Ditujukan  kepada orang-orang nonmuslim baik Yahudi, Nasrani, maupun majusi serta orang-orang musyrik, baik raja, kepala daerah maupun perorangan.

Adapun beberapa surat yang dikirim Nabi SAW kepada para raja dan para pembesar tersebut diantaranya sebagai berikut :

a)   Surat yang dikirim kepada Muqauqis, gubernur Mesir, dibawa oleh shahabat Hathib bin Abu Balta’ah

b)   Surat yang dikirim kepada Al-Mundzir Bin Sawa, raja Bahrain wakil raja Kisra, dibawa oleh Ibnul-Hadlramiy

c)   Surat yang dikirim kepada Haudzah Bin ‘Ali, raja negeri Yamamah dibawa oleh Salith bin ‘Amr Al-’Amiriy

2)   Surat-surat yang berisi aturan-aturan dalam Islam
Misalnya tentang zakat,sedekah dan sebagainya. Surat-surat seperti ini ditujukan kepada musli yang masih memerlukan penjelasan dari Nabi SAW.


3)   Surat-surat yang berisi beberapa hal yang wajib dikerjakan oleh orang-orang nonmuslim terhadap pemerintah Islam. Seperti masalah jizyah (iuran keamanan).


Masa Terakhir Nabi Muhammad SAW

Rasulullah SAW meninggal dunia pada saat dhuha pada hari senin tanggal 12 rabiul Awal tahun 11 H (8 juni  H (8 juni 632 M). Usia beliau saat itu berkisar 63 tahun.


B.Perkembangan Islam Masa Khulafaur Rasyidin

KhulafaurRasyidin merupakan pemimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat, yaitu pada masa pemerintahan :
1)   Abu Bakar
2)   Umar Bin Khattab
3)   Utsman Bin Affan
4)   Ali Bin Abi Thalib


1.  Masa Abu Bakar (11-13 H / 632-634 M)
Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasulullah SAW.
Abu Bakar disebut Khalifah Rasulillah (Pengganti Rasul),  yang dalam perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja.

Kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah.

Masa kepemimpinan  Abu Bakar habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri .

Terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab, yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah

Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad SAW, dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat

Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan.

Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid ibn Al-Walid adalah jenderal yang banyak berjasa dalam Perang ini.

Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia.

Khalidibn Walid  dikirim ke Iraq dan dapat menguasai al-Hirah di tahun 634 M.

Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat jenderal yaitu :


Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun.

Untuk memperkuat tentara ini, Khalid ibn Walid diperintahkan meninggalkan Iraq, dan melalui gurun pasir yang jarang dijalani, ia sampai ke Syria.

Salah satu hal monumental pada era Abu Bakar ra adalah pengumpulan mushaf al Quran dari para sahabat-sahabat yang lain, yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit.

Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M beliau meninggal dunia.



2.  Masa Umar Ibn Khatab  (13-23 H / 634-644 M)
Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin (pemimpin orang-orang yang beriman).

Di zaman Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi.

Damaskus (Ibu kota Syria) jatuh tahun 635 M. Setahun kemudian, setelah tentara Bizantium kalah di pertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syria jatuh ke bawah kekuasaan Islam.

Dengan memakai Syria sebagai basis, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan ‘Amr Ibn ‘Ash. Iskandaria, ibu kota Mesir, ditaklukkan tahun 641 M. Dengan demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan Islam


Ekspansi ke Iraq di bawah pimpinan Sa’ad ibn Abi Waqqash. Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq, jatuh tahun 637 M.

Dari sana serangan dilanjutkan ke Al-Madain (ibu kota Persia), yang jatuh pada tahun itu juga. Pada tahun 641 M, Mosul dapat dikuasai.

Dengan demikian, pada masa kepemimpinan Umar, wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir.

Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat. Umar segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia.

Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah.

Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif.

Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum.

Umar juga mendirikan Bait Al-Mal, menempa mata uang, dan menciptakan tahun hijrah.

Salah satu hal yang monumental pada era sayidina Umar ra adalah mengenai sholat tarawih.

Umar ra memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). Masa jabatannya berakhir dengan kematian.

Dia dibunuh oleh seorang budak dari Persia bernama AbuLu’lu’ah. 



3.  Masa Utsman Ibn ‘Afan ( 23-35 H / 644-655 M)
Di masa pemerintahan Utsman (644-655 M), Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristall berhasil direbut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini.

Utsman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota.

Dia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah.

Penulisan Al Quran dilakukan kembali pada masa sayidina Utsman ra. Ini terjadi pada tahun 25 H. Dan Al Quran yang kita pegang saat ini adalah mushaf Utsman

Pemerintahan Utsman berlangsung selama 12 tahun. Pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya.


Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan Utsman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. 

Yang terpenting diantaranya adalah Marwan ibn HakamDialah pada dasarnya yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Utsman hanya menyandang gelar Khalifah.

Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Utsman laksana boneka di hadapan kerabatnya itu.

Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan.

Harta kekayaan negara, oleh karabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Utsman sendiri.

Pada tahun 35 H 1655 M, Utsman wafat pada usia 82 tahun. Ia menemui ajal saat membaca Al Quran oleh tikaman pedang Humron.

Utsman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu.



4.  Masa Ali Ibn Abi Thalib ( 35-40 H / 655-660 M)
Setelah menduduki jabatan khalifahAli memecat para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka.

Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk. Dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara

Memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan diantara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar.

Tidak lama setelah itu, Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah.

Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zalim.

Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai.

Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun berkobar.

Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta)karena Aisyah dalam pertempuran itu menunggang unta.

Zubair dan Thalhah terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.

Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus (Mu’awiyah),

Yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan.

Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah. Ali bergerak dari Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara.

Pasukannya bertemu dengan pasukan Mu’awiyah di Shiffin. Pertempuran terjadi di sini yang dikenal dengan nama perang shiffin.

Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah.

Bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga, Al-Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali.

Akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut Ali), dan al-Khawarij (oran-orang yang keluar dari barisan Ali).

Keadaan ini tidak menguntungkan Ali. Munculnya kelompok Al-Khawarij menyebabkan tentaranya semakin lemah, sementara posisi Mu’awiyah semakin kuat.


Pada tanggal 20 ramadhan 40 H (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij.


C.Perkembangan Islam Masa Dinasti Umayah

peta wilayah kekuasaan bani Umayyah

Bersamaan dengan meninggalnya khalifah Ali bin Abu Thalib maka hilang sudah sistem pemerintahan khalifah yang bersifat demokratis. Bentuk pemerintahan berganti menjadi dinasti (kerajaan). 

Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, tepatnya pada masa kekuasaan AbdulMalik Ibn Marwan banyak terjadi perubahan dan perkembangan.

Sepanjang perjalanan kekuasaannya, dinasti Umayyah telah banyak membuat kemajuan dalam berbagai bidang.

Diantara kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa itu antara lain:

1.  Bidang Administrator Pemerintahan
Prestasi pertama yang diperoleh Bani Umayyah terdapat dalam bidang demokrasi pemerintahan.

Tradisi melakuakn pencacahan jiwa penduduk dan sistem pengiriman surat meyurat yang teratur.

Sistem perpajakan di organisasikan dengan sangat baik, karena merupakan sumber pendanaan paing besar dari kekhalifahan yang makin rumit.

2.  Perluasan Daerah
a)   Gerakan ke Timur
Kearah timur sampai ke sungai Ammu Darya dari sana gerakan mereka sampai kedaerah-daerah degan berbahasa Turki, dan bahasa Persia.

Pada tahun 723 M pasukan muslim berhasil pula memasuki kawasan India.

b)   Gerakan ke utara
Gerakan keutara terutama dalam menundukkan konstantinopel ibu kota Romawi Timur.

c)   Gerakan ke Eropa
Di daratan Afrika Utara pasukan Islam yang telah berhasil menduduki Mesir di zaman Umar, dilanjutkan terus oleh Khalifah Al Walid dari bani Umayah.

Di bawah Amir Maghribi, Musa berhasil menaklukan kota lama Kartago, untuk seterusnya memasuki daerah suku bangsa Berber di Maghribi.

Kartago merupakan bekas kota indah di zaman Romawi dengan bangunan indah diperbukitan pantai Libia menghadap ke Laut Tengah.

3.  Bidang Ilmu Pengetahuan
Pada masa kekuasaan bani umayah, ilmu pengetahuan berkembang pesat, baik bersumber Al-Qur’an maupun yang bersumber dari akal manusia. Ilmu-ilmu yang berkembang itu diantaranya:

a)   Ilmu Tafsir Al-Qur’an
b)   Ilmu Hadits Aatau Ulumul Hadits
c)   Ilmu Qiraatil Qur’an
d)   Ilmu Tata Bahasa
e)   Ilmu Kimia yang berasal dari orang Yunani
f)    Ilmu kedokteran
g)   Ilmu seni, bauk arsitektur maupun yang lainnya
h)   Ilmu Sejarah

4.  Bidang Pemerintahan
Dibidang pemerintahan, Bani Umayyah telah membentuk berbagai lembaga Negara beserta peraturan perundangannya, seperti :

a)   Pencatatan korp pegawai pemerintah

b)   Pembentukan pemerintah pusat dan daerah yang tidak hanya sampai tingkat Provinsi melainkan sampai kedistrik-distrik

c)   pembentukan lembaga pengadilan lembaga pertahanan dan keamanan Negara.

5.  Bidang Ekonomi
Dibidang ekonomi mereka menggalinya dari berbagai sektor, seperti pertanian, perdagangan, dan industri.

Karena itu, pemerintah mampu membiayai pembangunan gedung-gedung nan megah, pembangunan sarana dan prasarana untuk umum secara lengkap.

6.  Bidang Dakwah
Dakwah umat islam tidak hanya berkembang di jazirah Arabia saja, mereka telah sampai ke Tiongkok, India, denua Afrika dan Eropa.

Mereka berdakwah melalui berbagai jalur seperti jalur pendidikan, sosial budaya, dan dengan menulis buku-buku agama. 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz membangun mesjid Nabawi menjadi lebih indah, megah, dan luas, berkat bantuan arsitek yang dikirim dari Romawi.

Begitu pula Khalifah Walid Bin Abul Malik sempat membangun mesjid Damaskus menjadi indah dan megah.
mesjid agung Damaskus

Mesjid itu dibangunnya bersamaan dengan pembangunan kota Damaskus. Mesjid Agung Damaskus bukti kemegahan Dinasti Umayah.

1.  Bidang Seni Budaya

Berbagai bidang ilmu seni juga turut berkembang pada masa itu, seperti seni arsitektur, seni lukis, seni sastra, dan sebagainya.


D.Perkembangan Islam Masa Dinasti Abbasiyah

peta wilayah kekuasaan bani Abbasiyah

Masa pemerintahan Dinasti Abbasyiyahdibagi menjadi lima periode, yaitu :
1.   Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M).

2.   Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M).

3.   Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M).

4.   Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/l194 M).

5.   Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M).


Perkembangan Islam pada masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah (750-1258 M), antara lain :

1.   Bidang Sosial Budaya

a.   Seni Bangunan dan Arsitektur Masjid

Masjid yang dirikan pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah adalah bangunan masjid Samarra di Bagdad.
mesjid samarra

Masjid Samarra mempunyai tiang-tiang yang di pasang beratap lengkung. Tiang-tiang tersebut dibangun menggunakan batu bata.

a.   Seni Bangunan Kota

Seni bangunan islam mempunyai ciri khas dan gaya tersendiri yang terdapat pada  pintu pilar, lengkung kubah, hiasan lebih bergantung (muqarnas hat).

Istana khalifah Abu Ja’far Al-Mansur (136-158 H/754-775) dipusat kota bernama Qashru Al-Dzahab (istana keemasan)yang luasnya sekitar 160.000 Hasta persegi.

Masjid Jami’ didepannya memiliki luas areal sekitar 40.000 hasta persegi. Istana dan Masjid merupakan simbol kota.

Sekitar tahun 157 H, Khalifah Al-Mansur membangun istana baru diluar kota yang diberi nama Istana Abadi (Qasbrul Khuldi) 

2.  Bidang  Bahasa Sastra
1.  Bidang  Bahasa Sastra
a.   Perkembangan Puisi
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah banyak bermunculan penyair terkenal. Diantara mereka adalah sebagai berikut :

1)   Dabal al-kbuza’I (wafat 246 H). Penyair besar yang berwatak kritis.

2)   Ibnu Rumy (221-283 H). Penyair yang berani menciptakan tema-tema baru.

3)   Al-Matanabby (303-354 H). Penyair istana yang haus hadiah, pemuja yang paling handal.

4)   Al-Mu’arry (363-449 H). Penyair berbakat dan berpengetahuan luas.

b.   Perkembangan Prosa
Pada masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah telah terjadi perkembangan yang sangat menarik dalam bidang prosa.

Banyak buku sastra novel, riwayat, kumpulan nasihat, dan uraian-uraian sastra yang dikarang atau disalin dari bahasa asing.

Diantara para pujangganya, antara lain :

1)   Abdullah Bin Muqaffa (wafat tahun 143 H)
Buku prosa yang dirintisnya Kalilab Wa Dimnab. Kitab ini terjemahan dari bahasa sansekerta karya seorang filosuf india bernama Baidaba.

2)   Abdul Hamid Al – Katib.
Ia dipandang sebagai pelopor seni mengarang surat.

3)   Al-Jabid (wafat 255H).
Karyanya memiliki nilai sastra tinggi, sehingga menjadi bahasa rujukan dan bahan bacaan bagi para sastrawan.

4)   Ibnu Qutaibab (wafat 276 H).
Ia dikenal sebagai ilmuan dan sastrawan yang sangat cerdas, dan memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang bahasa kesusastraan.

5)   Ibnu Abdi Rabbib (wafat 328 H)
Ia seorang penyair yang berbakat yang memiliki kecendrungan kesajak drama. Sesuatu yang sangat langka dalam tradisi sastra arab.

Karyanya yang terkenal adalah Al-Aqdul Farid, semacam ensiklopedia Islam yang memuat banyak Ilmu pengetahuan Islam.


2.  Bidang Seni Musik
a.   Penyusun Kitab Musik
Diantara para pengarang karya kitab musik adalah sebagai berikut :
1) Yunus Bin Sulaiman (wafat tahun 765 M)
Beliau adalah pengarang teori musik pertama dalam islam. Karya musiknya sangat bernilai, sehingga banyak musikus eropa yang meniru.

2) Kbalib Bin Abmad (wafat tahun 791 M).
Beliau mengarang buku-buku teori musik mengenai not dan irama. Dijadikan sebagai bahan rujukan bagi sekolah-sekolah tinggi musik diseluruh dunia.

3) Ishak Bin Ibrahim Al-Mousuly (wafat tahun 850 M).
Ia telah berhasil memperbaiki musik jahiliyah dengan sistem baru. Dia mendapat gelar Raja Musik.

4) Hunain Bin Isbak (wafat tahun 873 M).
Ia telah berhasil menerjemahkan buku-buku teori musik karangan Plato dan Aristoteles.

5) Al-Farabi
Selain sebagai seorang filosuf, ia juga dikenal sebagai seniman dan ahli musik.

Karyanya banyak diterjemahkan kedalam bahasa Eropa dan menjadi bahan rujukan bagi para seniman dan pemusik Eropa.


b.   Pendidikan Musik
Sekolah musik yang paling baik adalah sekolah musik yang didirikan oleh Sa’aduddin Mukinin.

Karyanya berjudul Syarafiya, menjadi bahan rujukan dan dikagumi masyarakat musik dunia barat.

Latar belakangnya penyebab maraknya lembaga pendidikan musik bermunculan.

Karena kemampuan bermain musik menjadi salah satu syarat untuk menjadi pegawai atau untuk memperoleh pekerjaan dilembaga pemerintahan.


 3.  Bidang Pendidikan
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, pendidikan dan pengajaran mengalami kemajuan yang gemilang.

Pada masa itu prioritas umat islam mampu membaca dan menulis. Pada masa ini pendidiakan dan pengajaran diselenggarakan dirumah-rumah penduduk dan ditempat-tempat umum lainnya misalnya Muktab.

Menurut keterangan yang ada, terdapat sekitar 30.000 masjid yang sebagian besar dipergunakan sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran tingkat dasar
.

Kurikulum pendidikan pendidikan pada tingkat dasar terdiri pelajaran membaca, menulis, tata bahasa, hadist, prinsip-prinsip dasar matematika dan pelajaran syair.

Sedangkan pendidikan tingkat menengah terdiri dari pelajaran Taysir Al – Qur’an (pembahasan kandungan Al – Qur’an), Sunah Nabi, Fiqih, dan Ushul Fiqh, kajian ilmu kalam (teologi), ilmu Mantiq (retorika) dan kesustraan.

Pada pelajaran tingkat tinggi mengadakan pengkajian dan penelitian mandiri dibidang astronomi, geografi dunia, filsafat, geometri, musik dan kedokteran.


4.  Bidang Ilmu Pengetahuan
Dinasti Bani Abbasiyah yang berkuasa sekitar lima abad lebih, merupakan salah satu dinasti islam yang sangat peduli didalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.

Bani Abbasiyah telah menyiapkan segalanya, diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat riset dan terjemah.

Para ilmuan digaji sangat tinggi dan kebutuhan hidupnya dijamin oleh Negara.

Bahkan khalifah Bani Abbasiyah meminta siapa saja, termasuk para pejabat dan tentara.


Untuk mencari naskah-naskah yang berisi ilmu pengetahuan dan peradaban untuk dibeli dan diterjemahkan menjadi bahasa arab.




Jika ingin membagikan artikel ini, silahkan klik tombol share di bawah ini


1 comment: