18 Jenis Tanah


tanah

Tanah adalah bagian yang terdapat pada kerak bumi yang tersusun atas mineral dan bahan organik.

Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang mempunyai fungsi :
1)   Secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara
2)   Secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl);
3)   Secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman,

Ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan. 

Proses terbentuknya tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, namun secara umum proses terbentuknya tanah terbagi menjadi 4 tahapan.

4 tahapan tersebut adalah proses pelapukan batuan, proses pelunakan struktur, proses tumbuhnya tumbuhan perintis dan yang terakhir adalah proses penyuburan.

Setelah melewati 4 tahapan tersebut maka tanah sudah terbentuk secara sumpurna. Sehingga tumbuhan dan hewan autotrof akan mencari makanannya dalam tanah.

Berikut adalah penjelasan dari 4 tahapan proses terbentuknya tanah tersebut.
1.   Proses Pelapukan Batuan
Pelapukan adalah peristiwa hancurnya massa batuan, baik itu secara fisik, kimia ataupun biologi.

Pada proses pelapukan batuan ini membutuhkan waktu yang lama. Dimana setiap proses pelapukan pada umumnya dipengaruhi oleh cuaca sehingga batuan yang telah mengalami pelapukan akan berubah menjadi tanah.

Berikut adalah 3 jenis proses pelapukan secara umum :
a.   Pelapukan Fisik – adalah hancur dan lepasnya material batuan tanpa merubah struktur kimiawi dari batuan tersebut.

Pelapukan kimia ini merupakan proses penghancuran bongkahan batuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pelapukan fisik adalah :
·        Perbedaan Temperatur – Temperatur disini berpengaruh terhadap pelapukan fisik, dimana batuan akan mengalami proses pemuaian apabila temperatur panas dan akan mengalami pengecilan volume apabila temperatur dingin.
Apabila hal ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka lambat laun batuan tersebut akan terbelah dan pecah menjadi batuan-batuan kecil.

·        Erosi – erosi dapat mempengaruhi pelapukan karena air yang membeku diantara batuan volumenya akan membesar dan yang terjadi adalah air akan membuat tekanan yang dapat merusak struktur batuan.

b.   Pelapukan Kimiawi – adalah proses pelapukan massa batuan dimana perubahan susunan kimiawai batuan lapuk ikut mengalami pelapukan.

Proses pelapukan kimia dibagi menjadi 4, yaitu :
·        Hidrasi – Hidrasi adalah proses pelapukan batuan yang terjadi di permukaan batuan saja.
·        Hidrolisa – Hidrolisa adalah proses penguraian air atas unsur-unsurnya yang berubah menjadi ion positif dan denatif.
·        Oksidasi – Oksidasi adalah proses pengkaratan besi. Batuan yang mengalami proses oksidasi pada umumnya memiliki warna kecoklatan, hal ini disebabkan karena kandungan besi dalam batuan akan mengalami pengkaratan.
Proses ini memerlukan waktu yang sangat lama akan tetapi batuan akan tetap mengalami pelapukan.
·        Karbonasi – adalah proses pelapukan batuan oleh gas karbondioksida. Dimana gas ini terdapat pada air hujan ketika masih menjadi uap air. Contoh batuan yang mengalami proses karbonasi adalah batuan kapur. 
Tidak hanya itu saja, pelapukan secara kimiawi juga disebabkan oleh hujan asam dimana hujan asam didapatkan dari kondensasi metana, sulfur dan klorida yang terbawa oleh hujan yang bersifat korosif.

c.   Pelapukan Biologi – adalah pelapukan yang terjadi disebabkan oleh makhluk hidup. Pelapukan ini terjadi secara terus menerus setelah tanah terbentuk.
Dimana pelapukan biologi ini merupakan pelapukan penyempurna dari sifat-sifat tanah yang akan terbentuk.

2.   Proses Pelunakan Struktur
Pada proses kali ini batuan rempahan yang terbentuk dari proses pelapukan akan mengalami pelunakan.

Dimana air dan udara adalah 2 komponen yang memegang peran penting dalam proses ini. Air dan udara tersebut nantinya akan masuk di sela-sela rempahan batuan untuk melunakkan strukturnya.

Selain dapat membantu dalam proses pelunakan struktur batuan sehingga dapat dijadikan sebagai tempat hidup, air dan udara juga akan mendorong calon makhluk hidup untuk dapat tumbuh di permukaan.

Namun, perlu diingat bahwa organisme yang dapat berkembang dalam tahap proses ini hanya beberapa saja, contohnya adalah mikroba dan lumut.

Proses pelunakan struktur batuan ini membutuhkan waktu yang lama seperti pada proses pelapukan.

3.   Proses Tumbuhnya Tumbuhan Perintis
Setelah melewati proses pelunakan struktur batuan, maka akan dilanjutkan ke proses tumbuhnya keanekaragam tumbuhan perintis.
Tumbuhan yang dimaksud disini adalah tumbuhan yang lebih besar dari lumut, sehingga akar-akar yang masuk di dalam batuan yang telah lunak akan membantu proses pemecahan batuan tersebut.

Selain itu, asam humus yang mengalir dari permukaan batuan akan membuat batuan yang berada di bagian dalam melapuk dengan sempurna. Pada tahap inilah proses pelapukan secara biologi akan dimulai.

4.   Proses Penyuburan
Proses ini adalah proses terakhir dari proses terbentuknya tanah. Pada tahap ini tanah yang terbentuk akan mengalami proses pengayaan bahan-bahan organik.

Dimana tanah yang awalnya hanya mengandung mineral yang berasal dari proses pelapukan akan bertambah subur dengan adanya pelapukan organik.

Pelapukan organik ini dapat berasal dari hewan ataupun tumbuhan yang mati dipermukaan tanah. Dalam hal ini mikroorganisme tanah memiliki peran penting dalam proses terbentuknya tanah.

Sifat-sifat tanah dibedakan dalam beberapa golongan, yakni sifat fisik tanah, sifat kimia tanah dan sifat biologi tanah.
1.   Sifat Fisik Tanah
Sifat – sifat fisik dari tanah ini meliputi beberapa hal, berupa tekstur tanah, struktur, konsistensi tanah, warna, suhu, lengas, permeabilitas tanah, porositas tanah dan juga drainase tanah.
a.   Tekstur Tanah
Tekstur tanah merupakan perbandingan dari partikel debu, pasir, serta lempung dalam suatu massa tanah.

Tekstur tanah ini sangat mempengaruhi kemampuan tanah dalam hal daya serap air, ketersediaan air dalam tanah, infiltrasi dan juga laju pergerakan air.

b.   Struktur Tanah
Struktur tanah adalah susunan atau pengikatan dari butir -butir tanah yang membentuk agregat tanah dalam berbagai bentuk, ukuran serta kemantapannya.

Di lahan yang berupa rawa atau gurun, struktur tanah ini kurang atau tidak terbentuk dikarenakan butiran tanahya yang sifatnya tunggal atau tidak terikat satu sama lain.

Selain itu, struktur tanah ini juga bisa berubah dari struktur tanah aslinya dikarenakan tindakan manusia.
Misalnya saja, kegiatan para petani dalam melakukan pembajakan, pemupukan, serta pengolahan tanah yang bisa mengubah struktur tanah aslinya.

c.   Konsistensi Tanah
Konsistensi tanah merupakan sifat fisik tanah yang menunjukkan besar kecilnya gaya kohesi dan adhesi tanah pada berbagai kelembapan.

Sederhananya, konsistensi tanah bisa dipahami sebagai reaksi tanah ketika terdapat tekanan, seperti gejala gelincir, kegemburan, keliatan dan juga kelekatan tanah.

Konsistensi tanah ini dipengarhi oleh tekstur tanah, kadar bahan organik dari tanah, kadar koloid dan juga lengas tanah.

d.   Warna Tanah
Warna tanah merupakan suatu hal yang bisa menjadi petunjuk dari beberapa sifat tanah lain.

Penyebab umum dari adanya perbedaan warna permukaan tanah ini adalah karena adanya perbedaan kandungan bahan organik dalam tanah.

Semakin tinggi kandungan bahan organik, maka tanah akan semakin gelap warnanya.

e.   Suhu Tanah
Suhu tanah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan mikrobiologi dan perkecambahan dari biji tanaman.

Secara umum, semakin tinggi suhu suatu tanah hingga mencapai batasan tertentu, maka semakin meningkat pula kegiatan mikrobiologi dan perkecambahan yang bisa terjadi.

f.     Langas Tanah
Langas tanah juga disebut sebagai kelembapan tanah. Langas tanah ini adalah kandungan air yang mengisi sebagain atau seluruh pori -pori tanah yang terdapat di atas muka air tanah.

Air yang ada di pori -pori tanah dan merupakan air tanah, tidak termasuk dalam lengas tanah ini.

Pada dasarnya, seberapa pun keringnya tanah, di dalam tanah tersebut selalu terkandung lengas tanah (soil moisture).

g.   Permeabilitas Tanah
Permeambilitas tanah merupakan kecepatan air dalam merembes ke dalam tanah secara horizontal dan vertikal melalui pori-pori tanah.

Kecepatan perembesan air ini dipengaruhi oleh tekstur tanah. Permeabilitas tanah juga diartikan sebagai kecepatan tanah dalam meresapkan air dalam kondisi jenuh.

h.   Porositas Tanah
Porositas tanah merupakan perbandingan dari pori -pori dalam tanah terhadap volume massa tanah.
Porositas tanah ini dinyatakan dalam presentase. Untuk tanah yang mampu dengan mudah atau cepat meresapkan air, maka tanah tersebut disebut tanah porous karena memiliki rongga pori -pori yang diminan.

Tanah yang bersifat porous ini contohnya adalah tanah berpasir. Tanah yang tidak bersifat porous contohnya tanah lempung.

i.     Drainase Tanah
Drainase tanah adalah kemampuan tanah dalam mengalirkan serta mengatuskan kelebihan air yang ada di dalam tanah atau di permukaan tanah.

Tanah yang memiliki drainase buruk akan menyebabkan air cenderung menggenang.Untuk mengatasi hal ini, pada tanah tersebut perlu dibuat saluran air.

Hal yang dapat mempengaruhi terjadinya genangan air ini di antaranya adalah topografi tanah, air tanah yang dangkal dan curah hujan.


2.   Sifat Kimia Tanah
Sifat kimia tanah ini meliputi beberapa hal yakni bahan organik, unsur hara dan juga pH tanah.
a.   Bahan Organik
Bahan organik tanah ini terdiri dari sisa -sisa tanaman serta hewan yang ada di dalam tanah, pupuk hijau, pupuk kandang, kompos, kotoran dan lendir cacing, serangga, serta binatang -binatang besar lain.

Kandungan bahan organik tanah bisa dikenali dari warna tanahnya.Tanah yang di dalamnya mengandung bahan organik tinggi relatif akan memiliki efek warna tanah cokelat hingga hitam.

b.   Unsur Hara
Unsur hara merupakan unsur -unsur kimia yang diperlukan oleh tanaman untuk tumbuh.

Unsur hara yang disediakan oleh tanah ini dimanfaatkan oleh tanaman sebagai bahan makanan atau nutrisi.

Sebab, tanaman juga membutuhkan unsur hara (esensial), di samping kebutuhan akan oksigen dan karbondioksida.

c.   pH Tanah
pH tanah merupakan sifat kimia tanah menunjukkan derajat keasaman dari tanah. pH tanah ini bisa disebut normal jika nilainya berkisar 6,6 hingga 7,5.

Pada pH tanah inilah, seluruh unsur hara tanah yang penting, seperti nitrogen tersedia dengan baik.

Sedangkan bila tanah pada kondisi sangat asam dengan pH kurang dari 4,0, maka reaksi kimia dalam tanah bisa menyebabkan unsur-unsur dalam tanah seperti unsur AI, Mn dan Fe jadi memiliki konsentrasi tinggi. Akibatnya, hal ini justru bisa bersifat meracuni.


3.   Sifat Biologi Tanah
Sifat biologi tanah ini dibentuk oleh zat padat tanah yang berupa partikel -partikel tanah, bahan -bahan organik serta organisme tanah. Sifat biologi tanah dipengaruhi oleh beberapa unsur, meliputi :

a.   Total Mikroorganisme Tanah
Ini merupakan jumlah total dari mikroorganisme yang ada dalam tanah yang berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah.

Ketersediaan mikroorganisme dalam jumlah yang tinggi menunjukkan adanya keseimbangan komponen di dalam tanah.

Komponen yang dimaksud antara lain seperti suplai makanan, energi serta temperatur yang cukup.
b.   Jumlah Fungi atau Jamur Tanah
Jumlah fungi atau jamur tanah merupakan ketersediaan dari fungi di dalam tanah yang berperan dalam membantu dekomposisi bahan organik pada tanah yang bersifat asam.
c.   Jumlah Bakteri Pelarut Fosfat (P)
Jumlah bakteri pelarut fosfat ini merupakan bakteri tanah yang berperan dalam mempengaruhi perubahan organik dengan cara melarutkan kandungan fosfat yang ada dalam tanah.
d.   Total Respirasi Tanah
Total respirasi tanah merupakan pengukuran dari respirasi tanah yang akan menentukan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah.

Jika tingkat sirkulasi tanah semakin tinggi, maka jumlah organisme tanah juga akan semakin banyak

Jenis jenis tanah yang terdapat di dunia beda dari satu wilayah dengan wilayah yang lain bergantung pada kondisi tempat yang berada di wilayah itu.
1.   Tanah Aluvial
Tanah aluvial termasuk jenis tanah yang terbentuk lantaran adanya endapan lumpur. Aliran aliran sungai membawa endapan lumpur kemudian membentuk tanah ini.

Tanah tersebut pada umumnya dijumpai  di bagian hilir sebab dibawa dari hulu. Tanah tersebut lazimnya warnanya cokelat sampai kelabu.

Ciri-Ciri
Tanah tersebut amat sesuai buat pertanian baik pertanian padi ataupun palawija seperti jagung, tembakau serta macam tanaman sebagainya sebab teksturnya yang lembut serta gampang dikerjakan maka tak harus memerlukan kerja yang ekstra untuk dicangkul.

Persebaran
Tanah tersebut sebagian besar tersebar di Indonesia Mulai Kalimantan, Sumatera, Papua jawa & Sulawesi.

2.   Tanah Andosol
Tanah andosol adalah salah satu jenis tanah vulkanik yang mana tercipta sebab terdapat proses vulkanisme gunung berapi. Tanah tersebut amat subur serta bagus terhadap tanaman.

Ciri-Ciri
Tanah andosol memiliki warna coklat keabu-abuan. Tanah tersebut benar-benar tinggi kandungan seperti unsur hara, mineral dan air, maka amat bagus bagi pertumbuhan tanaman.

Tanah tersebut cocok sekali untuk berbagai macam tanaman yang terdapat di dunia ini. persebaran tanah andosol lazimnya ada di wilayah yang berdekatan di sekitar lokasi gunung berapi.

Persebaran
Di Indonesia sendiri yang termasuk area cincin api sebagian besar ada tanah andosol misalnya di daerah Bali, Nusa Tenggara, jawa, dan sumatera.

3.   Tanah Entisol
Tanah entisol memiliki kesamaan dengan tanah andosol, namun biasanya adalah hasil pelapukan oleh substantial yang dihasilkan dari letusan gunung berapi misalnya pasir, debu, lapili & lapili.

Ciri-Ciri
Tanah tersebut pula subur sekali dan termasuk jenis tanah yang masih belum matang.

Tanah tersebut lazimnya dapat kita jumpai tidak jauh dari lokasi gunung berapi dapat berwujud permukaan tanah tipis yang belum mempunyai lapisan tanah serta berbentuk gundukan pasir seperti yang terdapat di pantai parangteritis Yogjakarta.

Persebaran
Persebaran tanah entisol tersebut lazimnya dekat dengan lokasi gunung berapi layaknya di pantai parangteritis Jogjakarta, juga wilayah jawa yang lain yang terdapat gunung berapi.

4.   Tanah Grumusol
Tanah grumusol terbentuk oleh adanya pelapukan batuan kapur dan tuffa vulkanik. Tanah terdapat kandungan organik yang rendah lantaran berasal dari batuan kapur.

Sehingga bisa kita ambil kesimpulan bahwasanya jenis tanah ini tidak begitu subur dan tidak sesuai jika digunakan untuk menanam tumbuhan.

Ciri-Ciri
Tanahnya tersebut berstekstur kering dan rentan pecah terlebih lagi ketika datang musim kemarau dan mempunyai warna hitam.

Memiliki tingkat Ph yang netral sampai alkalis. Tanah tersebut pada umumnya ada di permukaan yang tingkatannya di bawah 300 meter dari permukaan laut dan mempunyai bentuk topografi yang datar sampai ada gelombangnya.
Pergantian suhu di wilayah yang ada tanah grumusol amat nyata ketika datang musim panas dan hujan.

Persebaran
Kebanyakan jenis tanah ini tersebar di wilayah Indonesia yang banyak terdapat tumbuhan jati lantaran teksturnya yang kering.

Beberapa wilayah itu tersebar di Daerah Jawa Timur (Madiun, Ngawi), Jawa Tengah (Jepara, Demak, Pati) dan Nusa Tenggara Timur.

5.   Tanah Humus
Tanah Humus adalah tanah yang tercipta dari pelapukan tanaman. Tanah Ini termasuk jenis tanah yang sangat subur lantaran banyak akan kandungan unsur hara dan mineral.

Ciri-Ciri
Tanah humus sangat bagus untuk dilakukan cocok tanam lantaran tanah ini benar-benar produktif dan juga bermanfaat bagi tanaman.

Tanah ini mempunyai unsur hara dan mineral sebagai hasil dari tanaman yang membusuk sampai warnanya sedikit kehitam hitaman.

Persebaran
Tanah jenis ini ada di berbagai wilayah yang memiliki wilayah hutan yang luas. Di Indonesia tersebar di beberapa wilayah seperti Kalimantan, Sumatera, Jawa, Papua serta beberapa wilayah di Sulawesi.

6.   Tanah Inceptisol
Inseptol tercipta karena pelapukan metamorf atau batuan sedimen yang memiliki warna sedikit kehitaman dan kecoklatan dan ada campuran yang sedikit keabu-abuan.

Tanah ini bisa mendukung pembuatan hutan yang rindang.

Ciri-Ciri
Ciri ciri tanah ini yaitu terdapat horizon kambik yang mana horizon ini berukuran jauh lebih sedikit dibandingkan dengan 25% horizon berikutnya yang berarti amat unik.

Tanah ini sangat pas jika digunakan untuk media tanam kebun misalnya perkebunan kelapa sawit, dan juga selain itu bisa digunakan untuk perkebunan karet.

Persebaran
Persebaran tanah Inseptisol ada di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Kalimantan, Sumatera & Papua.

7.   Tanah Laterit
Tanah laterit berwarna merah bata lantaran terdapat banyak kandungan alumunium dan zat besi.

Di Indonesia tanah ini kayaknya lumayan dikenal di beberapa daerah, terlebih lagi beberapa daerah di perkampungan atau pedesaan.

Ciri-Ciri
Tanah ini tergolong dari jenis tanah yang termasuk tua, makanya tidak sesuai jika digunakan untuk menanam setiap jenis tumbuhan, serta kandungan yang terdapat didalamnya juga.

Persebaran
Beberapa daerah persebaran di Indonesia yaitu diantaranya Jawa Timur, Jawa Barat dan Lampung.

8.   Tanah Latosol
Tanah jenis ini termasuk diantara tanah yang dapat dijumpai di Indonesia. Tanah ini tercipta akibat dari pelapukan batuan metamorf dan batuan sedimen.

Ciri-Ciri
Tanah jenis ini memiliki warna merah, dan beberapanya terdapat juga yang kuning. Mempunyai solum horizon dan teksturnya bersifat kasar.

Tanah ini tersebar di beberapa daerah yang bercurah hujan tinggi, tingkat kelembaban yang tinggi dan juga tingginya mencapai 300 sampai 1000 meter dari permukaan laut.

Lantaran mengandung alumunium dan zat besi, tanah ini tidak subur, sehingga tidak cocok jika digunakan untuk bercocok tanam.

Persebaran
Tanah ini tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Bali, Lampung, Sulawesi, dan Papua.

9.   Tanah Litosol
Tanah litosol termasuk tanah yang masih muda dan tergolong baru yang sedang berkembang.

Salah satu penyebab terbentuknya tanah ini yaitu pergantian iklim, adanya vulkanisme dan topografi.

Ciri-Ciri
Terdapat beberapa cara supaya tanah ini terus berkembang diantaranya yaitu dengan melakukan penanaman pohon agar memperoleh unsur hara dan mineral yang memadai.

Tanah ini memiliki tekstur berbagai macam, adanya yang kasar atau bebatuan, lembut dan adanya yang berpasir.

Persebaran
Tanah ini biasanya tersebar di beberapa wilayah yang terdapat kecuraman yang tinggi misalnya bukit tinggi, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi.

10.       Tanah Kapur
Sama halnya dengan namanya, tanah jenis ini terbentuk dari batuan kapur yang sudah melapuk.
Ciri-Ciri
Lantaran berasal dari batuan kapur tanah, maka dapat kita simpulkan bahwasanya tanah ini tergolong tidak subur dan tidak  dapat dibuat media tanam tanaman yang memerlukan air dalam jumlah yang banyak.

Akan tetapi tanah ini tetap bisa dibuat untuk media tumbuh tanaman yang lainnya yang pohon tumbuhannya tersebut memiliki sifat tahan lama dan kuat contohnya pohon jati dan jenis pohon keras yang lain.

Persebaran
Umumnya jenis tanah ini berasal dari beberapa daerah yang gersang dan kering misalnya gunung kidul Yogyakarta, serta beberapa daerah yang lain contohnya Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.

11.       Tanah Mergel
Sekilas kita pandang tanah ini memiliki kesamaan dengan jenis tanah kapur, diantaranya kesamaannya yaitu warna tanahnya yang sama sama putih dan berasal dari batuan kapur.
akan tetapi ada beberapa perbedaan yang mencolok.

Diantara perbedaannya yaitu tanah mergel ini sifatnya lebih berpasir, tercampur dengan beberapa bahan yang lain yaitu batuan kapur, tanah liat dank pasir, dan terbentuk karena adanya bantuan dari air hujan akan tetapi tidak menyeluruh.

Ciri-Ciri
Beda dengan tanah kapur yang tidak dapat dijadikan tempat tanaman yang memerlukan banyak air, sebaliknya jenis Tanah ini tergolong tanah yang subur karena mengandung banyak air mineral dan unsur hara.

Tanah ini dapat dipakai untuk perkebunan bahkan persawahan.

Persebaran
Tanah ini pada umumnya tersebar di daerah dataran rendah misalnya Madiun, Solo (Jawa Tengah), dan Kediri (Jawa Timur).

12.       Tanah Organosol
Seperti dengan namanya tanah ini terbentuk dari benda benda yang organik misalnya tanaman, rawa dan gambut.

Kita dapat menjumpai jenis jenis tanah ini di wilayah yang sering terguyur hujan dan mempunyai iklim basah.

Ciri-Ciri
Tanah ini cuma memiliki ketebalan berkisar antara o,5 mm saja, serta mempunyai diferensiasi horizon yang jelas.

Tanah ini terdiri dari 30% kandungan organik, 20% kandungan pasir dan teksturnya bersifat lempung. Sementara untuk kandungan unsur hara sedikit dan tingkat kelembapannya rendah yaitu sekitar PH 0,4 saja.

Persebaran
Tanah ini tersebar di beberapa daerah dekat dengan laut dan sebagian tersebar di hampir semua pulau yang berada di Indonesia misalnya Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Nusa Tenggara dan Jawa.

13.       Tanah Oxisol
Tanah Oxisol adalah tanah yang tinggi kandungan zat besi serta alumunium oksida.

Hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia khususnya yang beriklim tropis dari perkampungan hingga perkotaan.

Ciri-Ciri
Ada beberapa ciri ciri tanah ini yang dapat kita identifikasi diantaranya yaitu terdapat solum yang dangkal, serta memilki ketebalan yang minim tidak lebih dari 1 meter.

Memiliki warna kuning dan merah serta teksturnya bersifat halus semacam tanah liat.

Persebaran
Pada umumnya tersebar di daerah yang mempunyai iklim tropis basah dan sangat pas jika dipakai untuk perkebunan subsisten misalnya nanas, tebu, pisang dan jenis tanaman yang lain.

14.       Tanah Padas
Tanah padas dapat dibilang termasuk tanah bersifat keras dan mirip dengan bebatuan.

Ciri-Ciri
Tanah ini benar-benar tidak memiliki kandungan air sama sekali lantaran sifatnya yang padat sekali malahan tidak terdapat air.

Rendah akan kandungan unsur haranya serta mengandung organik yang sangat sedikit malahan hampir tidak ada.

Dapat kita simpulkan bahwa Tanah ini tidak cocok jika digunakan untuk media pertumbuhan tanaman.

Persebaran
Persebaran tanah ini hampir merata di masing-masing wilayah Indonesia.

15.       Tanah pasir
Sesuai dengan namanya tanah pasir adalah hasil dari batuan pasir yang melapuk. Tersebar di beberapa daerah khususnya sekitar daerah kepulauan atau pantai.

Ciri-Ciri
Lantaran teksturnya yang sangat lemah maka di dalam Tanah ini tidak terdapat kandungan air dan mineral.

Tanah pasir sangat gampang sekali kita jumpai di wilayah yang banyak pasirnya di Indonesia. Indonesia sendiri termasuk negara kepulauan maka termasuk diantara negara yang memiliki jumlah tanah pasir paling luas di dunia.

Adapun beberapa tumbuhan yang sangat pas untuk ditanam dengan media tanah ini yaitu umbi-umbian.

Persebaran
Persebaran tanah ini merata di semua wilayah di Indonesia.

16.       Tanah Podsolik Merah Kuning
Tanah ini amatlah gampang kita jumpai di setiap daerah Indonesia lantaran persebaran yang merata.

Ciri-Ciri
Tanah ini memiliki warna merah sampai kuning serta mengandung organik dan mineral akan gampang sekali mengalami pencucian dari air hujan.

Dengan demikian, supaya tanah ini dapat subur perlu dilakukan penanaman tanaman yang mendistribusikan zat organik bagi kesuburan tanah atau pupuk apakah yang hayati atau hewan.

Persebaran
Tanah ini dapat dipakai untuk perkebunan dan persawahan dan mudah dijumpai di Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Papua khususnya Jawa Bagian Barat.

17.       Tanah Podsol
Tanah ini adalah gabungan dari beberapa campuran tekstur dari bebatuan kecil hingga pasir.

Ciri-Ciri
Tanah podsol memiliki ciri-ciri diantaranya yaitu tidak mempunyai perkembangan profil berwarna kuning satuan dan tekstur nya berpasir sampai Lampung.

Hantaran hasil bentukan dari curah hujan yang tinggi namun suhunya rendah maka kandungan organiknya pada tanah ini juga rendah.

Persebaran
Tanah ini tersebar beberapa pulau di Indonesia seperti Sulawesi Utara, Papua dan beberapa daerah yang lain yang jarang kering atau senantiasa basah.

18.       Tanah Liat
Jenis jenis tanah Selanjutnya yaitu Tanah liat yang merupakan campuran antara alumunium dengan silikat yang berdiameter antara 4 mikrometer ke bawah.

Pembentukan tanah ini dikarenakan adanya proses pelapukan batuan silika yang dikerjakan asam karbonat serta beberapa diantaranya yaitu hasil dari aktifitas dalam bumi.

Ciri-Ciri
Persebaran tanah ini kebanyakan di beberapa daerah Indonesia dengan merata. Lazimnya dipakai unt6uk membuat kerajinan sampai kebutuhan yang lain.

Tanah liat juga umumnya mempunyai warna abu abu pekat atau sedikit mengarah warna hitam, ada di bagian luar atau permukaan ataupun dalam tanah.

Persebaran
Persebaran jenis jenis tanah ini benar benar merata di semua daerah di Indonesia, cuma saja yang membedakannya yaitu tingkat kedalaman tanah ini.

Di samping itu juga tanah ini terdapat di 10 Jenis tanah yang lain di Indonesia maupun dunia.

1.   Sistem Klasifikasi Menurut Soil Taxonomy (USDA)
Sistem USDA atau Soil Taxonomy dikembangkan pada tahun 1975 oleh tim Soil Survey Staff yang bekerja di bawah Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).

Sistem ini pernah sangat populer namun juga dikenal sulit diterapkan.Oleh pembuatnya, sistem ini diusahakan untuk dipakai sebagai alat komunikasi antarpakar tanah, tetapi kemudian tersaingi oleh sistem WRB.

Meskipun demikian, beberapa konsep dalam sistem USDA tetap dipakai dalam sistem WRB yang dianggap lebih mewakili kepentingan dunia.

Sistem klasifikasi tanah terbaru ini memberikan Penamaan Tanah berdasarkan sifat utama dari tanah tersebut. Menurut Hardjowigeno (1992) terdapat 10 ordo tanah dalam sistem Taksonomi Tanah USDA 1975, yaitu:

1)   Alfisol
Tanah yang termasuk ordo Alfisol merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di horison bawah (terdapat horison argilik)dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah.

Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci ke bawah bersama dengan gerakan air.

Padanan dengan sistem klasifikasi yang lama adalah termasuk tanah Mediteran Merah Kuning, Latosol, kadang-kadang juga Podzolik Merah Kuning.

2)   Aridisol
Tanah yang termasuk ordo Aridisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai kelembapan tanah arid (sangat kering).

Mempunyai epipedon ochrik, kadang-kadang dengan horison penciri lain. Padanan dengan klasifikasi lama adalah termasuk Desert Soil.

3)   Entisol
Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan.

Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, albik atau histik. Kata Ent berarti recent atau baru.

Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol.

4)   Histosol
Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat).
Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan tanaman.

Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol.

5)   Inceptisol
Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada Entisol.

Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. Umumnya mempunyai horison kambik.

Tanah ini belum berkembang lanjut, sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial, Andosol, Regosol, Gleihumus, dll.

6)   Mollisol
Tanah yang termasuk ordo Mollisol merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18 cm yang berwarna hitam (gelap), kandungan bahan organik lebih dari 1%, kejenuhan basa lebih dari 50%.

Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering. Kata Mollisol berasal dari kata Mollis yang berarti lunak.

Padanan dengan sistem kalsifikasi lama adalah termasuk tanah Chernozem, Brunize4m, Rendzina, dll.

7)   Oxisol
Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit.

Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat.

Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Berdasarkan pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas.

Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning), Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning.

8)   Spodosol
Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang, dilapisan atas terdapat horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic).

Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzol.

9)   Ultisol
Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%.

Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning, Latosol, dan Hidromorf Kelabu.

10)       Vertisol
Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut.

Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket.

Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit.

Kelebihan
a)   Sistem klasifikasi tanah USDA ini memberikan Penamaan Tanah berdasarkan sifat utama dari tanah tersebut,definisi-definisi horison penciri, dan beberapa sifat penciri lainnya. ( Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah ).
b)   Sistem klasifikasi USDA ( Departemen Pertanian AS ) dirilis pada tahun 1975. Dibuat karena sistem-sistem klasifikasi yang telah ada sebelumnya saling tumpang tindih dalam penamaan yang disebabkan oleh perbedaan kriteria.
c)   Dalam penggunaannya, sistem USDA memberikan kriteria yang jelas dibanding sistem klasifikasi lainnya.  Oleh karena itu, Sistem USDA ini hampir selalu disertakan dalam pengklasifikasian tanah untuk mendampingi penamaan berdasarkan sistem FAO atau PPT (Pusat Penelitian Tanah), dan sistem ini sangat membantu karena penamaannya yang konsisten.
d)   Sistem ini benar-benar baik dalam cara-cara penanaman (tata nama) maupun definisi-definisi mengenai horison-horison penciri ataupun sifat-sifat penciri lain yang digunakan untuk menentukan jenis-jenis tanah.

Kekurangan
Sistem Klasifikasi USDA memiliki kelemahan karena kriterianya yang sangat mendasarkan pada analisis laboratorium yang rinci, sehingga para praktisi sulit untuk mengaplikasikannya langsung di lapangan.


2.   Sistem Klasifikasi Menurut Pusat Penelitian Bogor
Nama-nama tanah dalam tingkat Jenis dan Macam tanah dalam sistem Pusat Penelitian Bogor yang disempurnakan (1982) sangat mirip dengan sistem FAO/UNESCO.

Walaupun demikian nama-nama lama yang sudah terkenal tetap dipertahankan, tetapi menggunakan definisi-definisi baru.
Jenis-jenis tanah yang ada adalah sebagai berikut :

Jenis – Jenis Tanah menurut Klasifikasi Pusat Penelitian Tanah Bogor, (disempurnakan, 1982) :

1)   Organosol Tanah organik (gambut) yang ketebalannya lebih dari 50 cm.

2)   Litosol Tanah mineral yang ketebalannya 20 cm atau kurang. Di bawahnya terdapat batuan keras yang padu.

3)   Rendzina Tanah dengan epipedon mollik (warna gelap, kandungan bahan organik lebih dari 1 %, kejenuhan basa 50 %), dibawahnya terdiri dari batuan kapur.

4)   Grumusol Tanah dengan kadar liat lebih dari 30 % bersifat mengembang dan mengerut. Jika musim kering tanah keras dan retak-retak karena mengerut, jika basah lengket (mengembang).

5)   Gleisol Tanah yang selalu jenuh air sehingga berwarna kelabu atau menunjukkan sifat-sifat hidromorfik lain.

6)   Aluvial Tanah berasal dari endapan baru dan berlapis-lapis, bahan organik jumlahnya berubah tidak teratur dengan kedalaman. Hanya terdapat epipedon ochrik, histik atau sulfurik, kandungan pasir kurang dari 60 %.

7)   Regosol Tanah bertekstur kasar dengan kadar pasir lebih dari 60 %, hanya mempunyai horison penciri ochrik, histik atau sulfurik.

8)   Arenosol Tanah bertekstur kasar dari bahan albik yang terdapat pada kedalaman sekurang-kurangnya 50 cm dari permukaan atau memperlihatkan ciri-ciri mirip horison argilik, kambik atau oksik, tetapi tidak memenuhi syarat karena tekstur terlalu kasar. Tidak mempunyai horisin penciri kecuali epipedon ochrik.

9)   Andosol Tanah-tanah yang umumnya berwarna hitam (epipedon mollik atau umbrik) dan mempunyai horison kambik; kerapatan limbak (bulk density) kurang dari 0,85 g/cm3, banyak yang mengandung amorf atau lebih dari 60 % terdiri dari abu vulkanik vitrik, cinders atau bahan pyroklastik lain.

10)       Latosol Tanah dengan kadar liat lebih dari 60 %, remah sampai gumpal, gembur, warna tanah seragam dengan dengan batas-batas horison yang kabur, solum dalam (lebih dari 150 cm), kejenuhan basa kurang dari 50 %, umumnya mempunyai epipedon kambrik dan horison kambik.

11)       Brunizem Seperti Latosol, tetapi kejenuhan basa lebih dari 50 %.

12)       Kambisol Tanah dengan horisin kambik, atau epipedon umbrik atau molik. Tidak ada gejala-gejala hidromorfik (pengaruh air).

13)       Nitosol Tanah dengan penimbunan liat (horison argilik). Dari horison penimbunan liat maksimum ke horison-horison di bawahnya, kadar liat turun kurang dari 20 %. Mempunyai sifat ortoksik (kapasitas tukar kation kurang dari 24 cmol (+) / kg liat.

14)       Podsolik Tanah dengan horison penimbunan liat (horison argilik), dan kejenuhan basa kurang dari 50 %, tidak mempunyai horison albik.

15)       Mediteran Seperti tanah Podsolik (mempunyai horison argilik) tetapi kejenuhan basa lebih dari 50 %.

16)       Planosol Tanah dengan horison albik yang terletak diatas horison dengan permeabilitas lambat (misalnya horison argilik atau natrik) yang memperlihatkan perubahan tekstur nyata, adanya liat berat atau fragipan, dan memperlihatkan ciri-ciri hidromorfik sekurang-kurangnya pada sebagian dari horison albik.

17)       Podsol Tanah dengan horison penimbunan besi, Alumunium Oksida dan bahan organik (sama dengan horison sporadik). Mempunyai horison albik.

18)       Oksisol Tanah dengan pelapukan lanjut dan mempunyai horison oksik, yaitu horison dengan kandungan mineral mudah lapuk rendah, fraksi liat dengan aktivitas rendah, kapasitas tukar kation rendah (kurang dari 16 cmol (+) / kg liat). Tanah ini juga mempunyai batas-batas horison yang tidak jelas.


Kelebihan
a)   Sistem ini disukai oleh pekerja lapangan pertanian karena mudah untuk diterapkan di lapangan. Selalu diperbaharui perkembangannya.
b)   Penamaannya mudah untuk dihafal.

Kekurangan
a)   Banyak nama-nama baru, sehingga sedikit membingungkan.
b)   Penamaannya tidak mempunyai ciri khusus dari klasifikasi tersebut, hanya mengadaptasi dari klasifikasi yang lain.
c)   Dalam penamaan tidak disertakan sifat tanah.


3.   Sistem Klasifikasi Menurut FAO / UNESCO
Sistem klasifikasi tanah ini dibuat dalam rangka pembuatan peta tanah dunia dengan skala 1 : 5.000.000.

Peta tanah ini terdiri dari 12 peta tanah. Sistem ini terdiri dari 2 kategori. Kategori pertama setara dengan great soil group, dan kategori kedua setara dengan sub group dalam Taksonomi Tanah (USDA).

Untuk pengklasifikasian, digunakan horison-horison penciri yang sebagian diambil dari kriteria-kriteria horison penciri pada Taksonomi Tanah dan sebagian dari sistem klasifikasi tanah ini.

Nama-nama tanah diambil dari nama-nama tanah klasik yang sudah terkenal dari Rusia, eropa barat, Kanada, Amerika Serikat dan beberapa nama baru yang khusus dikembangkan untuk tujuan ini.

Tampaknya dari nama-nama tanah tersebut bahwa sistem ini merupakan komromi dari berbagai sistem dengan tujuan agar diterima oleh semua pakar di dunia.

Beberapa nama dan sifat tanah dalam kategori “great group” menurut sistem FAO/UNESCO sebagai berikut :
1)   Fluvisol     
Tanah-tanah berasal dari endapan baru, hanya mempunyai horison penciri ochrik, umbrik, histik atau sulfurik, bahan organik menurun tidak teratur dengan kedalaman, berlapis-lapis.

2)   Gleysol
Tanah dengan sifat-sifat hidromorfik (dipengaruhi air sehingga berwarna  kelabu, gley dan lain-lain), hanya mempunyai epipedon ochrik, histik,  horison kambik, kalsik atau gipsik.

3)   Regosol
Tanah yang hanya mempunyai epipedon ochrik. Tidak termasuk bahan endapan baru, tidak menunjukkan sifat-sifat hidromorfik, tidak bersifat mengembang dan mengkerut, tidak didominasi bahan amorf.

4)   Lithosol
Tanah yang tebalnya hanya 10 cm atau kurang, di bawahnya terdapat lapisan batuan yang padu.

5)   Arenosol
Tanah dengan tekstur kasar (pasir), terdiri dari bahan albik yang terdapat pada kedalaman 50 cm atau lebih, mempunyai sifat-sifat sebagai horison argilik, kambik atau oksik, tetapi tidak memenuhi syarat karena tekstur yang kasar tersebut.
Tidak mempunyai horison penciri lain kecuali epipedon ochrik. Tidak terdapat sifat hidromorfik, tidak berkadar garam tinggi.

6)   Rendzina
Tanah dengan epipedon mollik yang terdapat langsung di atas batuan kapur.

7)   Ranker
Tanah dengan epipedon umbrik yang tebalnya kurang dari 25 cm. Tidak ada horison penciri lain.

8)   Andosol
Tanah dengan epipedon mollik atau umbrik atau ochrik dan horison kambik, serta mempunyai bulk density kurang dari 0,85 g/cc dan didominasi bahan amorf, atau lebih dari 60 % terdiri dari bahan vulkanik vitrik, cinder, atau pyroklastik vitrik yang lain.

9)   Vertisol
Tanah dengan kandungan liat 30 % atau lebih, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah menjadi keras, dan retak-retak karena mengkerut, kalau basah mengembang dan lengket.

10)       Solonet
Tanah dengan horison natrik. Tidak mempunyai horison albik dengan sifat-sifat hidromorfik dan tidak terdapat perubahan tekstur yang tiba - tiba.

11)       Yermosol
Tanah yang terdapat di daerah beriklim arid (sangat kering), mempunyai epipedon ochrik yang sangat lemah, dan horison kambik, argilik, kalsik atau gipsik.

12)       Xerolsol
Seperti Yermosol tetapi epipedon ochrik sedikit lebih berkembang.

13)       Kastanozem
Tanah dengan epipedon mollik berwarna coklat (kroma > 2), tebal 15 cm  atau lebih, horison kalsik atau gipsik atau horison yang banyak mengandung bahan kapur halus.

14)       Chernozem
Tanah dengan epipedon mollik berwarna hitam (kroma < 2) yang tebalnya 15 cm atau lebih. Sifat-sifat lain seperti Kastanozem.

15)       Phaeozem
Tanah dengan epipedon mollik, tidak mempunyai horison kalsik, gipsik, tidak mempunyai horison yang banyak mengandung kapur halus.

16)       Greyzem
Tanah dengan epipedon mollik yang berwarna hitam (kroma < 2), tebal 15 cm atau lebih, terdapat selaput (bleached coating) pada permukaan struktur tanah.

17)       Cambisol
Tanah dengan horison kambik dan epipedon ochrik atau umbrik, horison kalsik atau gipsik. Horison kambik mungkin tidak ada bila mempunyai epipedon umbrik yang tebalnya lebih dari 25 cm.

18)       Luvisol
Tanah dengan horison argillik dan mempunyai KB 50 % atau lebih. Tidak mempunyai epipedon mollik.

19)       Podzoluvisol
Tanah dengan horison argillik, dan batas horison eluviasi dengan Horison di bawahnya terputus-putus (terdapat lidah-lidah horison eluviasi = tonguing).

20)       Podsol
Tanah dengan horison spodik. Biasanya dengan horison albik.

21)       Planosol
Tanah dengan horison albik di atas horison yang mempunyai permeabilitas lambat misalnya horison argillik atau natrik dengan perubahan tekstur yang tiba-tiba, lapisan liat berat, atau fragipan. Menunjukkan sifat hidromorfik paling sedikit pada sebagian horison albik.


22)       Acrisol
Tanah dengan horison argillik dan mempunyai KB kurang dari 50 %. Tidak terdapat epipedon mollik.

23)       Nitosol
Tanah dengan horison argillik, dan kandungan liat tidak menurun lebih dari 20 % pada horison-horison di daerah horison penimbunan liat maksimum. Tidak terdapat epipedon mollik.

24)       Ferrasol
Tanah dengan horison oksik, KTK (NH4Cl) lebih 1,5 me/100 g liat. Tidak terdapat epipedon umbrik.

25)       Histosol
Tanah dengan epipedon histik yang tebalnya 40 cm atau lebih.
                       

Kelebihan
a)   Dapat diterima oleh semua pihak karena menggunakan perpaduan antara klasifikasi dari FAO sendiri dan dari USDA.
b)   Mempunyai ciri khas, karena dalam pengklasifikasiannya berdasarkan horison-horison penciri dan kriteria horisonnya.
c)   Nama-nama tanah sebagian diambil dari nama-nama klasik yang sudah terkanal didaerah Eropa, Rusia, Kanada, dan Amerika. Sehingga namanya sudah bersifat umum.
d)   Cocok untuk peta berskala 1:5.000.000

Kekurangan
a)   Sistem ini lebih tepat disebut sebagai suatu sistem satuan tanah daripada suatu sistem klasifikasi tanah karena tidak disertai dengan pembagian kategori yang lebih terperinci hanya subgroup dan greatgroup.
b)   Dalam penamaan tidak secara langsung orang dapat mengetahui sifat tanah tersebut.

Selain klasifikasi di atas, ada juga klasifikasi tanah berdasarkan kelasnya
1)   Tanah Kelas 1 (Warna Hijau)
Tanah kelas 1 dapat dipergunakan untuk segala jenis penggunaan pertanian tanpa memerlukan tindakan pengawetan tanah yang khusus.

Jenis tanah ini datar, dalam bertekstur halus atau sedang, mudah diolah dan respons terhadap pemupukan.

Tidak mempunyai faktor penghambat atau ancaman kerusakan dan oleh karenanya dapat dijadikan lahan tanaman semusim dengan aman.

2)   Tanah Kelas 2 (Warna Kuning)
Tanah kelas 2 dapat dipergunakan untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan sedikit faktor penghambat.

Jenis tanah ini agak berlereng landai, kedalamannya dalam dan bertekstur halus sampai agak halus. Dalam hal ini diperlukan sedikit usaha konservasi tanah.

3)   Tanah Kelas 3 (Warna Merah)
Tanah kelas 3 dapat dipergunakan untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan hambatan lebih besar dari jenis tanah kelas 2, sehingga memerlukan tindakan pengawasan khusus dalam pengelolaannya.

Jenis tanah ini terdapat pada tempat yang agak miring atau drainase buruk, memiliki kedalaman sedang, atau permeabilitasnya agak cepat.

Jenis tanah ini masih memerlukan suatu tindakan pengawetan tanah khusus, seperti pembuatan teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman penutup tanah dengan waktu untuk tanaman tersebut lebih lama.

4)   Tanah Kelas 4 (Warna Biru)
Tanah kelas 4 dapat dipergunakan untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan hambatan dan ancaman kerusakan yang lebih besar dari jenis tanah kelas 3, sehingga memerlukan tindakan khusus dan pengawetan tanah yang lebih berat dan lebih terbatas.

Penggunaannya terbatas untuk tanaman semusim. Tanah ini terletak pada lereng yang miring 15%-30% atau berdrainase buruk atau kedalaman dangkal.

Jika digunakan untuk menanam tanaman semusim diperlukan pembuatan teras dan pergiliran tanaman lebih kurang 3-5 tahun.

5)   Tanah Kelas 5 (Warna Hijau Tua)
Tanah kelas 5 ini tidak sesuai untuk digarap bagi tanaman semusim, tetapi akan lebih sesuai untuk tanaman makanan ternak secara permanen atau dihutankan.

Jenis tanah ini terdapat pada daerah yang datar atau agak cekung tergenang air atau terlalu bayak batu di atas permukaannya ataupun terdapat liat masam (cat clay) di dekat atau pada daerah perakaran.

6)   Tanah Kelas 6 (Warna Oranye)
Tanah kelas 6 tidak sesuai untuk digarap bagi usaha tani tanaman yang semusim, disebabkan karena terletak pada lereng yang agak curam (30%-45%) sehingga mudah tererosi, atau kedalamannya agak dangkal atau telah mengalami erosi berat.

Tanah jenis ini lebih tepat dijadikan padang rumput atau dihutankan. Jika digarap untuk tanaman semusim diperlukan pengawetan tanah yang agak berat.

7)   Tanah Kelas 7 (Warna Coklat)
Tanah kelas 7 sama sekali tidak sesuai untuk digarap menjadi usaha tani tanaman semusim. Dianjurkan untuk menanam vegetasi permanen atau tanaman yang keras.

Jenis tanah ini terdapat pada daerah yang berlereng yang curam (45%-65%) dan tanahnya dangkal atau telah mengalami erosi berat. Jika dijadikan hutan atau padang rumput harus hati-hati karena sangat peka erosi.

8)   Tanah Kelas 8 (Warna Putih)
Tanah kelas 8 tidak sesuai untuk usaha produksi pertanian dan harus dibiarkan pada keadaan alami atau hutan lindun.

Tanah ini lebih cocok untuk cagar alam atau hutan lindung. Jenis tanah ini terdapat pada tempat yang memiliki kecuraman lebih 90%.

Permukaan tanah ini ditutupi oleh batuan lepas atau batuan ungkapan atau tanah yang berstruktur kasar.


Kerusakan tanah adalah kondisi tanah yang komposisinya (50% bahan padat (45% bahan- bahan mineral dan 5% bahan organic), 25% air, serta 25% udara) tidak seimbang yang disebabkan oleh :
1)   Kondisi Bumi semakin tua
2)   Aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari- hari

1.   Jenis- Jenis Kerusakan Tanah
Jenis kerusakan pada tanah, adalah sebagai berikut:
a.   Erosi Tanah
Erosi tanah merupakan peristiwa terangkatnya bagian- bagian tanah, terutama lapisan teratas pada tanah dan diendapkan ke tempat lain.

Erosi tanah ini dibagi menjadi beberapa jenis. Jenis- jenis dari erosi tanah antara lain sebagai berikut:
1)   Ablasi
Ablasi merupakan erosi tanah yang dilakukan oleh tenaga air. Jadi tanah terkikis akibat adanya aliran air.

Peristiwa ablasi ini sering terjadi di daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi. Selain itu bentuk lahan atau bentuk permukaan tanah yang miring juga bisa mempermudah terjadinya ablasi.

2)   Deflasi
Deflasi disebut juga dengan Korasi. Deflasi Atau korasi ini merupakan peristiwa erosi tanah yang disebabkan karena angin.

Tiupan angin yang terlalu kencang akan mampu mengangkat partikel- partikel tanah sehingga terjadilah erosi.

Deflasi atau korosi ini biasa terjadi di daerah gurun atau daerah yang memiliki iklim kering.

3)   Eksarasi
Jenis erosi tanah yang selanjutnya adalah eksarasi. Eksarasi merupakan erosi tanah yang disebabkan oleh gletser.

Gletser sendiri merupakan kikisan dari massa salju yang bergerak menuruni lereng. Gletser ini ada di daerah yang bersalju.

Karena disebabkan oleh gletser, maka eksarasi ini terjadi di daerah yang mempunyai banyak salju.

4)   Abrasi
Abrasi merupakan erosi tanah yang disebabkan karena kekuatan gelombang laut. Dari beberapa jenis erosi tanah, mungkin abrasi adalah yang paling sering kita dengar.

Hal ini karena Indonesia mempunyai banyak sekali laut, maka gelombang- gelombang laut banyak yang menyebabkan pengikisan pada tanah.

Karena penyebabnya adalah gelombang laut, maka abrasi hanya terjadi di sekitar daerah- daerah laut.

Apabila kita perhatikan lebih dalam, maka jenis- jenis erosi tanah tersebut dilihat dari penyebab erosi itu sendiri, seperti air, angin, gletser maupun gelombang laut.


b.   Lahan Kritis
Selain erosi tanah, bentuk kerusakan tanah yang lainnya adalah lahan kritis. Seperti namanya yakni “kritis” maka keadaan ini pun mencerminkan keadaan tanah yang sangat buruk.

Yang dimaksud dengan lahan kritis adalah kondisi tanah yang telah kehilangan kesuburannya  sehingga mengakibatkan penurunan fungsi sebagai sarana pendukung kehidupan. 

Lahan kritis ini bisa timbulkan karena beberapa hal, antara lain sebagai berikut:
1)   Kerusakan hutan
Penyebab lahan kritis yang pertama adalah karena kerusakan hutan. Manusia mempunyai banyak sekali aktivitas yang dapat mengakibatkan kerusakan hutan.

Hal ini karena manusia mengambil manfaat hutan yang terkadang sampai tidak terkendali.

Apabila pemanfaatan hutan tidak dibarengi dengan upaya pelestarian hutan maka akan mengakibatkan kerusakan pada hutan.

beberapa kegiatan yang mengakibatkan kerusakan pada hutan yang pada akhirnya menyebabkan lahan kritis antara lain adalah penebangan liar, kebakaran hutan, dan pertanian sistem ladang berpindah.

2)   Kegiatan pertambangan
Penyebab lahan kritis yang selanjutnya adalah kegiatan pertambambangan. Barang tambang kita peroleh dengan menggali tanah, maka apabila tidak hati- hati akan mengakibatkan lahan kritis.

Pengambilan barang tambang yang tidak disertai dengan pengelolaan lingkungan akan mengakibatkan kerusakan tanah, salah satunya adalah lahan kritis.

Lahan kritis akibat kegiatan pertambangan terjadi akibat hilangnya vegetasi penutup lahan, perubahan topografi dan juga perubahan struktur lapisan tanah.


c.   Pencemaran Tanah
Jenis kerusakan tanah yang selanjutnya adalah pencemaran yang terjadi pada tanah. Pencemaran tanah merupakan gangguan keseimbangan pada tanah yang diakibatkan oleh masuknya polutan hasil kegiatan manusia.

Polutan sendiri merupakan bahan atau benda yang menyebabkan pencemaran, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Polutan mempunyai sifat tidak dapat diurai oleh bakteri pengurai sehingga tidak dapat menyatu dengan tanah.
Ada banyak sekali polutan tanah yang dihasilkan oleh kegiatan sehari- hari. Beberapa jenis polutan tanah adalah berbagai berikut:
1)   Limbah domestik
Limbah domestik merupakan benda atau bahan tidak dipakai yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga, baik berupa limbah padat, cair dan juga gas.

Beberapa contoh limbah domestik antara lain  bungkus detergen, air bekas cucian, bungkus makanan dan lain sebagainya.

2)   Limbah industri
Merupakan limbah yang dihasilkan sebagai akibat kegiatan produksi suatu industri. Sama seperti limbah domestik, limbah industri juga bisa berbentuk cair, padat maupun gas.

Karena sifatnya yang keras dan jumlahnya yang lebih banyak, maka kebanyakan limbah industri lebih berbahaya daripada limbah domestik.

3)   Limbah pertanian
Polutan tanah selanjutnya adalah limbah pertanian. Seperti namanya, limbah pertanian merupakan limbah yang dihasilkan dari kegiatan pertanian.

Limbah pertanian ini berasal dari pupuk berbahan kimia yang digunakan dalam kegiatan pertanian.

Pemupukan yang berlebihan dan dilakukan dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan kerusakan pada tanah.

a.   Metode Vegetatif
Metode vegetatif ialah metode pengawetan tanah dengan cara menanam vegetasi pada lahan yang dilestarikan.

Metode ini sangat efektif dalam pengontrolan erosi. Ada beberapa cara mengawetkan tanah melalui metode vegetatif, yaitu:
1)   Buffering, yaitu penutupan lahan yang mempunyai kemiringan dengan tanaman keras
2)   Windbreaks, yaitu penanaman dengan tumbuhan secara permanen untuk melindungi tanah dari tiupan angin.
3)   Strip cropping, yaitu penanaman berjalur tegak lurus terhadap arah aliran air atau arah angin
4)   Contour strip cropping, yaitu penanaman berjalur sejajar dengan garis kontur guna mengurangi dan menahan kecepatan aliran air, menahan partikel-partikel tanah yang terangkat oleh aliran permukaan.
5)   Reboisasi, yaitu penanaman kembali lahan yang sudah gundul/kritis.
6)   Crop Rotation, yaitu Sistem pergiliran tanaman dalam satu lahan, setiap musim

b.   Metode Mekanik
Metode mekanik ialah metode pengawetan tanah melalui teknikteknik pengolahan tanah yang dapat memperlambat aliran air. Beberapa cara yang dilakukan pada metode ini antara lain:
1)   Contour tillage, yaitu pengolahan tanah sejajar dengan garis kontur dan membentuk igir- igir kecil yang memperlambat aliran air dan memperbesar infiltrasi air
2)   Penerasan atau terasering, yaitu membuat teras-teras pada lahan yang miring guna memperpendek panjang lereng dan memperkecil kemiringan lereng sehingga dapat menahan aliran air permukaan.
3)   Pembuatan pematang atau guludan dan saluran-saluran air sejajar dengan kontur
4)   Pembuatan check dam untuk membentuk aliran air yang melalui parit-parit erosi sehingga material tanah yang terangkut tertahan dan terendapkan.
5)   Irigasi, yaitu pembuatan saluran air buatan pada lapisan tanah.


c.   Metode Kimia
Metode kimia dilakukan dengan menggunakan bahan kimia untuk memperbaiki struktur tanah, yaitu meningkatkan kemantapan agregat (struktur tanah).

Tanah dengan struktur yang mantap tidak mudah hancur oleh pukulan air hujan, sehingga air infiltrasi tetap besar dan aliran air permukaan (run off) tetap kecil.

Penggunaan bahan kimia untuk pengawetan tanah belum banyak dilakukan, walaupun cukup efektif tetapi biayanya mahal. Sekarang ini umumnya masih dalam tingkat percobaan.

Beberapa jenis bahan kimia yang sering digunakan untuk tujuan ini antara lain Bitumen dan Krilium. Emulsi dar bahan kimia tersebut dicampur dengan air, misalnya dengan perbandingan 1 : 3 kemudian di campur dengan tanah

Tanah  merupakan lapisan bumi yang sangat penting untuk kehidupan manusia.Oleh karena itu sangat wajib untuk merawat tanah supaya lebih subur dan tidak mudah rusak.

Karena apabila tanah rusak dapat menjadi penyebab banjir atau bencana lainnya seperti erosi tanah dan tanah longsor. Cara yang dapat di lakukan antara lain :
1)   Menggunakan pupuk kimia secara bijaksana. Pupuk memang bertujuan untuk menambah unsur hara dalam tanah.
Akan tetapi jika penggunaannya berlebihan, justru akan menimbulkan pencemaran pada tanah dan air oleh zat kimia.
Penggunaan pupuk organik seperti pupuk kompos dan pupuk kandang lebih aman karena risiko pencemarannya jauh lebih sedikit (bisa dikatakan sangat aman).
2)   Membuat sengkedan/terasering pada tanah miring. Tujuannya untuk mencegah erosi. Apabila tanah sangat miring, harus ditambahkan penguat seperti tumpukan batu atau pohon besar.
Daerah yang tanahnya tidak subur sebaiknya ditanami kacang-kacangan untuk menambah unsur nitrogen dalam tanah.
3)   Mengusahakan agar permukaan tanah selalu tertutup oleh tanaman untuk mengurangi kerusakan tanah akibat sinar matahari, longsor, dan banjir.
4)   Penghijauan pada tanah-tanah yang tidak diolah agar tanah tidak menjadi gersang.
5)   Penertiban pembuangan sampah secara sembarangan, karena dapat mencemari tanah, air, dan udara. Sampah-sampah yang dapat didaur ulang harus didaur ulang.
6)   Penertiban pembuangan limbah industri yang mengandung logam berat, bahan-bahan yang sulit hancur, atau zat-zat yang termasuk limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

No comments:

Post a Comment