15 Manfaat Renang


manfaat renang

A.  Sejarah Renang

Sejarah olahraga renang sudah dimulai sejak zaman batu atau sejak masa prasejarah yang berkembang di berbagai negara di belahan dunia.

Hal ini diketahui dengan adanya lukisan dan gambar-gambar kuno yang ditemukan di gua daerah Wadi Sora sebelah barat daya Mesir.

Olahraga renang juga berkembang di Eropa yaitu di Yunani dan bangsa Romawi yang menganggap renang sebagai salah satu faktor penting dalam latihan keprajuritan bangsa romawi.

3 Jenis Saham Berdasarkan Karakteristiknya

saham

Banyak yang beranggapan bahwa untuk menjadi seorang investor haruslah orang yang sukses, memiliki banyak uang, dan seolah menjadi pembenaran bahwa untuk menjadi investor maka anda harus kaya terlebih dahulu.

Padahal para ahli investasi terkemuka dunia menyatakan "berinvestasilah dan Anda akan menjadi kaya, bukan sebaliknya."

A.  Pengertian Saham
Saham ialah surat berharga yang menunjukkan bagian atau bukti kepemiilikkan atas suatu perusahaan.

Jika seseorang membeli saham, itu berarti orang itu membeli sebagian kepemilikkan dari perusahaan tersebut.

Orang itupun berhak atas keuntungan dalam bentuk dividen, apabila perusahaan tersebut membukukan keuntungan.

Orang itu pun bisa mendapatkan keuntungan dari naiknya harga saham itu dari waktu ke waktu.

Wujud saham adalah selembar kertas yang dikeluarkan oleh perusahaan dan menyatakan bahwa pemilik kertas yang namanya tercantum dalam surat tersebut adalah pemilik perusahaan sesuai dengan porsi berapa persen atau berapa banyak penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut. 

Jika perusahaan tersebut sehat, maka saham akan punya nilai jual yang tinggi karena bisa menghasilkan laba yang besar.

B.  Jenis Saham
Berikut adalah jenis-jenis saham yang dibagi menjadi tiga berdasarkan karakternya masing-masing :

1.   Jenis Saham dari Segi Kemampuan dalam Hak Tagih atau Klaim
a.   Saham Biasa (Common Stocks)
Saham jenis ini mempunyai karakteristik yaitu bisa melakukan klaim kepemilikan pada semua penghasilan dan aktiva yang dimiliki perusahaan.

Namun demikian, pemilik atau pemegang saham jenis ini hanya memiliki kewajiban yang terbatas.

Keuntungannya adalah jika terjadi resiko terburuk misalnya perusahaan bangkrut, kerugian maksimum yang ditanggung oleh pemegang saham adalah sebesar investasi pada saham tersebut.

Saham biasa juga mempunyai karakteristik utama sebagai berikut:
1)   Hak suara pemegang saham, bisa memillih dewan komisaris.
2)   Hak didahulukan, jika organisasi penerbit menerbitkan saham baru.
3)   Tanggung jawab terbatas, hanya pada jumlah yang diberikan saja.

b.   Saham Preferen (Preferred Stocks)
Jenis saham ini didesain sebagai gabungan antara obligasi dan saham biasa.

Beberapa investor menyukai jenis saham yang bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi).

Secara umum, karakteristik saham preferen sama halnya dengan saham biasa yang bisa mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas lembaran saham tersebut, dan membayar dividen. 

Pemegang saham ini juga bisa melakukan klaim atas laba dan aktiva sebelumnya, dividennya tetap selama masa berlaku dari saham, dan memiliki hak tebus dan dapat dipertukarkan (convertible) dengan saham biasa.

Hal ini yang membuat saham ini mirip dengan obligasi, dan banyak diminati investor.

Saham Preferen mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1)   Mempunyai berbagai tingkat, yang bisa diterbitkan dengan karakteristik berbeda.
2)   Tagihan terhadap aktiva serta pendapatan, memiliki prioritas lebih tinggi dari saham biasa dalam hal mengenai pembagian dividen.
3)   Dividen kumulatif, jika belum dibayarkan dari periode sebelumnya maka bisa dibayarkan pada periode berjalan serta lebih dahulu dari saham biasa
4)   Konvertibilitas, bisa ditukar menjadi saham biasa, jika kesepakatan antara pemegang saham dan organisasi penerbit terbentuk.


2.   Jenis Saham dari Segi Cara Peralihannya
a.   Saham Atas Unjuk (Bearer Stocks)
Secara fisik, pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya.

Hal ini bertujuan agar mudah dipindahtangankan dari satu investor satu ke investor lainnya.

Banyak investor yang memiliki saham ini dengan tujuan memang untuk diperjualbelikan.

Investor tidak perlu khawatir karena secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah diakui sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

b.   Saham Atas Nama (Registered Stocks)
Kebalikan dari saham atas unjuk, pada saham atas nama pemegang saham tertulis jelas namanya di dalam kertas saham dan cara peralihannya pun juga harus melalui prosedur tertentu.


a.   Blue Chip Stocks
Jenis saham ini banyak diburu investor karena berasal dari perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai petinggi di industrinya, dan memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen.

b.   Income Stocks
Jenis saham ini juga mempunyai keunggulan dalam hal kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya.

Kemampuan menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur membagikan dividen tunai menjadi daya tarik tersediri bagi investor.

c.   Growth Stocks
Mirip dengan blue chip, saham jenis ini memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai petinggi di industri sejenis dan dikenal sebagai perusahaan yang mempunyai reputasi tinggi.

Walaupun bukan sebagai petinggi dalam industri, namun jenis saham ini tetap memiliki ciri growth stock.

Biasanya merupakan saham dari perusahaan daerah dan kurang populer di kalangan emiten.

d.   Speculative Stocks
Investor dengan profil resiko high risk, bisa mencoba jenis saham ini.

Saham ini berpotensi menghasilkan laba tinggi di masa depan, namun tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun.

e.   Counter Cyclical Stocks
Jenis saham ini paling stabil saat kondisi ekonomi bergejolak karena tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum.

Ilustrasinya jika terjadi resesi ekonomi, maka harga saham ini tetap tinggi, di mana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi.

Hal ini bisa terjadi sebagai akibat dari kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi.


Bursa Efek Indonesia (BEI), sebagai tempat transkasi jual beli dan pendaftaran saham saat ini mempunyai jenis saham baru yang diperdagangkan yaitu ETF (Exchange Trade Fund).

Yang merupakan gabungan reksadana terbuka dengan saham dan pembelian di bursa seperti halnya saham di pasar modal bukan di Manajer Investasi (MI).

Bagi investor yang terbiasa bermain di bursa efek, sistem layanan satu pintu dalam transaksi ETF tentu sangat memudahkan.

ETF dibagi 2, yaitu ETF index dan Close and ETFs. Pada ETF index, investor bisa mengalokasikan dananya dalam sekumpulan portofolio efek yang terdapat pada satu indeks tertentu dengan proporsi yang sama.

Sedangkan pada Close and ETFs, Saham jenis ini diperdagangkan di bursa efek dalam bentuk investasi tertutup dan dikelola secara aktif.




Manfaat Belajar Mandiri

belajar mandiri

Kegiatan belajar mandiri merupakan salah satu bentuk kegiatan belajar yang lebih menitikberatkan pada kesadaran belajar seseorang.

Atau lebih banyak menyerahkan kendali pembelajaran kepada diri peserta didik sendiri.

Belajar mandiri bukan berarti harus belajar mandiri sebagai belajar sendiri.

Peserta didik sering kali menyalahartikan konsep belajar mandiri sebagai belajar sendiri.

Sebagai seorang yang mandiri, peserta didik tidak harus mengetahui semua hal

Tetapi tidak juga diharapkan menjadi peserta didik yang jenius yang tidak membutuhkan bantuan orang lain.

Belajar mandiri merupakan kemampuan yang tidak banyak berkaitan dengan pembelajaran apa

Tetapi lebih berkaitan dengan bagaimana proses belajar tersebut dilaksanakan.

Belajar mandiri dikembangkan untuk meningkatkan tanggung jawab peserta didik dalam proses pembelajaran.

Tanggungjawab peserta didik dalam proses pembelajaran akan meningkatkan motivasi (intrinsik).

Motivasi intrinsik dibangun dengan pemahaman bahwa segala sesuatu yang dilakukan sekarang adalah dalam rangka mempersiapkan masa yang akan dating.

Sehingga peserta didik mempunyai keyakinan dan dorongan kuat untuk mengembangkan dirinya.

Motivasi intrinsik membantu peserta didik membuat pilihan informasi dan mengambil tanggung jawab untuk memutuskan apa yang perlu lakukan dalam rangka untuk belajar.

Tugas guru dalam proses belajar mandiri ialah menjadi fasilitator, yaitu menjadi orang yang siap memberikan bantuan kepada peserta didik bila diperlukan.

Bentuknya terutama bantuan dalam menentukan tujuan belajar, memilih bahan dan media belajar, serta dalam memecahkan kesulitan yang tidak dapat dipecahkan peserta didik sendiri.

Kemandirian pada manusia bersifat psikologis dan bukan merupakan suatu bakat yang dimiliki individu.
Tetapi dapat dikembangkan dengan baik pada diri seseorang melalui latihan yang dilakukan secara berkesinambungan.


A.  Pengertian Belajar Mandiri
Pengertian belajar mandiri menurut Hiemstra (1994:1) adalah sebagai berikut:
1.   Setiap individu berusaha meningkatkan tanggung jawab untuk mengambil berbagai keputusan. 
2.   Belajar mandiri dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran. 
3.   Belajar mandiri bukan berarti memisahkan diri dengan orang lain. 
4.   Dengan belajar mandiri, peserta didik dapat mentransferkan hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan ke dalam situasi yang lain. 
5.   Peserta didik yang melakukan belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas, seperti: membaca sendiri, belajar kelompok, latihan-latihan, dialog elektronik, dan kegiatan korespondensi. 
6.   Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti dialog dengan peserta didik, pencarian sumber, mengevaluasi hasil, dan memberi gagasan-gagasan kreatif. 
7.   Beberapa institusi pendidikan sedang mengembangkan belajar mandiri menjadi program yang lebih terbuka (seperti Universitas Terbuka) sebagai alternatif pembelajaran yang bersifat individual dan programprogram inovatif lainnya.

Dari pengertian belajar mandiri menurut Hiemstra di atas, maka dapat disimpulkan.

Belajar mandiri adalah perilaku peserta didik dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya secara nyata dengan tidak bergantung pada orang lain.

Dalam hal ini adalah peserta didik tersebut :
a)   mampu melakukan belajar sendiri, dapat menentukan cara belajar yang efektif,
b)   mampu melaksanakan tugas-tugas belajar dengan baik
c)   mampu untuk melakukan aktivitas belajar secara mandiri.


B.  Ciri-Ciri Belajar Mandiri
Ada beberapa ciri-ciri yang menandai belajar mandiri, antara lain:
1.   Pyramid Tujuan, semakin tinggi kualitas kegiatan belajar, akan semakin banyak kompetensi yang diperoleh.
2.   Sumber belajar dari guru, tutor, kawan dll dan Media Belajar antara lain: paket-paket belajar yang berisi self instructional material, buku teks, hingga teknologi informasi lanjut.
3.   Belajar mandiri dapat dilakukan dimanapun tempat yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar dan dapat dilaksanakan setiap waktu
4.   Pembelajar memiliki cara belajar yang tepat untuk dirinya sendiri (auditif, visual, kinestetik, atau tipe campuran)
5.   Belajar mandiri juga dapat dijalankan dalam sistem pendidikan formal, nonformal, ataupun bentuk-bentuk belajar campuran.
6.   Kegiatan belajar aktif merupakan kegiatan belajar yang memiliki cirri keaktifan pembelajar, persistensi, keterarahan dan kreativitas untuk mencapai tujuan.
7.   Motif atau niat untuk menguasai suatu kompetensi adalah kekuatan pendorong kegiatan belajar secara intensif, persisten, terarah dan kreatif.
8.   Kompetensi adalah pengetahuan atau keterampilan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah.
9.   Dengan pengetahuan yang telah dimiliki, pembelajar mengolah informasi yang diperoleh dari sumber belajar sehingga menjadi pengetahuan ataupun keterampilan baru yang dibutuhkannya.
10.       Tujuan belajar hingga evaluasi hasil belajar, ditetapkan sendiri oleh pembelajar sehingga mereka sepenuhnya menjadi pengendali kegiatan belajar.


1.   Memunculkan Inisiatif atau dorongan internal 
Konsep belajar mandiri lebih kepada kondisi inisiatif atau motivasi yang ada pada diri peserta didik.

Belajar mandiri bukan dalam artian seseorang belajar sendiri. Proses belajar dapat dilakukan sendiri (seorang diri), atau dalam kelompok.

Peserta didik mandiri selalu memiliki inisiatif atau dorongan dari dalam dirinya untuk memulai suatu proses pembelajaran.

2.   Mampu Menetapkan tujuan 
Peserta didik mandiri selalu memiliki tujuan yang ditetapkan sendiri.

Tujuan dari peserta didik mandiri, peserta didik di sekolah misalnya, bukan semata-mata untuk memenuhi kewajiban sebagai peserta didik.

Yang harus mengikuti proses belajar mengajar, menyelesaikan tugas-tugas dari pendidik.

Tujuan peserta didik mandiri sudah lebih komprehensif.

3.   Aktif dan kreatif mencari sumber belajar
Ketersediaan sumber belajar sering menjadi persoalan bagi penguasaan kompetensi yang dituntut.

Sekolah seringkali hanya menyediakan sumber belajar yang sangat terbatas, dan sifatnya sektoral.

Pada umumnya sumber belajar hanya tiga, dan seringkali tidak lengkap, yaitu perpustakaan, buku pelajaran pegangan peserta didik, dan lembar kerja peserta didik.

Penekanan sumber-sumber belajar ini sektoral, memenuhi tuntutan materi semata. Berbentuk penguasaan secara kognitif dan terpisah-pisah.

Bagi peserta didik mandiri, sumber belajar yang demikian akan selalu dirasakan kurang.

Proses penguasaan kompetensi dilakukan dengan memperbanyak sumber belajar.

Peserta didik aktif dan kreatif mencari dan memanfaatkan sumber belajar.

Baik sumber belajar yang berbentuk cetak, elektronik, maupun langsung dari masyarakat.

Sumber belajar cetak dapat berupa buku-buku di perpustakaan yang secara langsung merujuk pada materi ajar tertentu, maupun dari tempat lain yang secara luas memberikan informasi yang terkait, langsung maupun tidak langsung, dengan materi ajar.

Sumber elektronik dapat berupa multimedia pembelajaran, sumber internet, atau sumber-sumber lain.

Langsung kepada masyarakat, dapat kepada orang-orang yang memang mempunyai kompetensi tertentu

Maupun dalam mengamati, menyelidiki dan menemukan kaitan materi ajar dengan kehidupan riil

Dan menjadi sumber untuk memahami dan menguasai kompetensi tertentu.

4.   Sadar siapa dirinya
Kesadaran dan pengenalan diri sendiri berdampak pada motivasi belajar pada peserta didik.

Kesadaran diri berkaitan dengan kemampuan, bakat, dan minat diri atas ilmu dan pengetahuan, juga terkait dengan tipe belajar yang paling efektif.

Peserta didik dikenalkan pada tipe belajar visual, auditori atau kinestetik.

Peserta didik yang memahami kemampuan, bakat dan minatnya akan termotivasi mempelajari materi ajar dengan tanpa menghiraukan hasilnya.

Proses belajar menjadi sesuatu yang sangat bermakna.

Manfaat belajar mandiri akan semakin terasa bila peserta didik aktif membaca buku sumber, melakukan pengamatan, penelitian, analisa dan memecahkan masalah.

Pengalaman yang mereka peroleh semakin menambah wawasan, dan semakin kaya dengan ilmu pengetahuan.

Apalagi bila mereka belajar mandiri dalam kelompok, disini mereka akan belajar kerja sama, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.

Belajar mandiri akan menjadikan peserta didik untuk berani memilih sendiri apa yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Kemandirian adalah memerlukan tanggung jawab, berinisiatif, memiliki  keberanian, dan sanggup menerima resiko serta mampu menjadi guru bagi dirinya sendiri.

Dengan demikian pada akhirnya peserta didik akan menikmati arti hidup sebenarnya dari pada terbelenggu dan selalu diatur oleh orang lain.


D.  Kegiatan - Kegiatan Belajar Mandiri
Menurut Haris Mudjiman (2009: 20-21) kegiatan-kegiatan yang perlu diakomodasikan dalam pelatihan belajar mandiri adalah sebagai berikut:
1.   Adanya kompetensi-kompetensi yang ditetapkan sendiri oleh peserta didik untuk menuju pencapaian tujuan-tujuan akhir yang ditetapkan oleh program pelatihan untuk setiap mata pelajaran. 
2.   Adanya proses pembelajaran yang ditetapkan sendiri oleh peserta didik. 
3.   Adanya input belajar yang ditetapkan dan dicari sendiri. Kegiatankegiatan itu dijalankan oleh peserta didik, dengan ataupun tanpa bimbingan guru. 
4.   Adanya kegiatan evaluasi diri (self evaluation) yang dilakukan oleh peserta didik sendiri. e) Adanya kegiatan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dijalani peserta didik. 
5.   Adanya past experience review atau review terhadap pengalamanpengalaman yang telah dimiliki peserta didik. 
6.   Adanya upaya untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta didik. 
7.   Adanya kegiatan belajar aktif.

Berdasarkan uraian tentang kegiatan-kegiatan dalam pelatihan belajar menurut Haris Mudjiman di atas, maka dapat diambil kesimpulan.

Peserta didik yang memiliki kemandirian belajar adalah peserta didik yang :
a)   mampu menetapkan kompetensi-kompetensi belajarnya sendiri,
b)   mampu mencari input belajar sendiri,
c)   melakukan kegiatan evaluasi diri serta refleksi terhadap proses pembelajaran yang dijalani peserta didik.


E.  Aspek Belajar Mandiri
Dalam keseharian peserta didik sering dihadapkan pada permasalahan yang menuntut peserta didik untuk mandiri dan menghasilkan suatu keputusan yang baik.

Song and Hill (2007: 31-32) menyebutkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu :

1.   Personal Attributes 
Personal attributes merupakan aspek yang berkenaan dengan motivasi dari pebelajar, penggunaan sumber belajar, dan strategi belajar.

Motivasi belajar merupakan keinginan yang terdapat pada diri seseorang yang merangsang pebelajar untuk melakukan kegiatan belajar.

Ciri-ciri motivasi menurut Worrel dan Stillwell dalam Harliana (1998) antara lain:
a)   tanggung jawab (mereka yang memiliki motivasi belajar merasa bertanggung jawab atas tugas yang dikerjakannya dan tidak meninggalkan tugasnya sebelum berhasil menyelesaikannya)

b)   tekun terhadap tugas (berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas dan tidak mudah menyerah)

c)   waktu penyelesaian tugas (berusaha menyelesaikan setiap tugas dengan waktu secepat dan seefisien mungkin)

d)   menetapkan tujuan yang realitas (mampu menetapkan tujuan realistis sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, mampu berkonsentrasi terhadap setiap langkah untuk mencapai tujuan dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai.

2.   Processes 
Processes merupakan aspek yang berkenaan dengan otonomi proses pembelajaran yang dilakukan oleh pebelajar meliputi perencanaan, monitoring, serta evaluasi pembelajaran.

Kegiatan perencanaan meliputi:
a)   mengelola waktu secara efektif (pembuatan jadwal belajar, menyusun kalender studi untuk menulis atau menandai tanggal-tanggal penting dalam studi, tanggal penyerahan tugas makalah, tugas PR, dan tanggal penting lainnya, mempersiapkan buku, alat tulis, dan peralatan belajar lain)
b)   menentukan prioritas dan manata diri (mencari tahu mana yang paling penting dilakukan terlebih dahulu dan kapan mesti dilakukan).

Kegiatan monitoring dalam pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe Kepala Bernomor Terstruktur antara lain :
a)   aktif melakukan diskusi dalam kelompok
b)   berani mengemukakan pendapat pada saat diskusi berlangsung,
c)   aktif bertanya saat menemui kesulitan baik terhadap teman maupun guru,
d)   membuat catatan apabila diperlukan,
e)   tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran meskipun guru tidak hadir.

Sedangkan yang termasuk kegiatan evaluasi pembelajaran antara lain :
a)   memperhatikan umpan balik dari tugas yang telah dilaksanakan sehingga dapat diketahui letak kesalahannya,
b)   mengerjakan kembali soal/ tes di rumah
c)   berusaha memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.

3.   Learning Context 
Fokus dari learning context adalah faktor lingkungan dan bagaimana faktor tersebut mempengaruhi tingkat kemandirian pebelajar.

Ada beberapa faktor dalam konteks pembelajaran yang dapat mempengaruhi pengalaman mandiri pebelajar antara lain, structure dan nature of task.

Struktur dan tugas dalam konteks pembelajaran ini misalnya, peserta didik belajar dengan struktur (cara kerja) model pembelajaran Cooperatif Learning tipe Kepala Bernomor Terstruktur dan mengerjakan tugas kelompok dalam LKS.


F.   Penerapan/Implementasi Belajar Mandiri
1.   Mengambil Tindakan
Peserta didik yang menghimpun, menyentuh, dan mengumpulkan pengetahuan memiliki otak yang berbeda.

Dibandingkan dengan peserta didik yang hanya menonton, mendengar dan menyerap informas

2.   Mengajukan Pertanyaan
Untuk menjadi mandiri, harus bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan menarik dan tajam yang dapat menyempurnakan keyakinan dan menjelaskan kejadian.

3.   Membuat Pilihan
Peserta didik memilih untuk berpartisipasi dalam rencana kerja yang paling sesuai dengan minat pribadi dan bakat mereka.

Serta gaya belajar yang paling tepat bagi mereka sambil mencari keterkaitan antara tugas sekolah dengan kehidupan keseharian mereka.

4.   Membangun Kesadaran Diri
Kesadaran-diri ini meliputi pengetahuan tentang keterbatasan dan kekuatan kita, mengetahui bagaimana pandangan orang lain kepada kita serta pengendalian emosi.

5.   Kerja Sama
Dengan bekerja sama, membantu peserta didik untuk menemukan bahwa ternyata cara pandang mereka hanyalah satu diantara cara pandang yang lain

Dan cara mereka melakukan sesuatu hanyalah satu kemungkinan dari berbagai kemungkinan lain.

Melalui kerja sama, dan bukannya persaingan atau kompetisi, peserta didik menyerap kebijaksanaan orang lain.


G.  Tahap-Tahap Pengembangan Belajar Mandiri
1.   Tahap pemberian stimulus
Pembelajar diberi rangsangan berupa bahan ajar dengan metode penyampaian yang menarik. Tujuanya agar pembelajar tertarik kepada bahan ajar yang diberikan.

2.   Tahap penumbuhan niat
Terjadi proses menimbang-nimbang, apakah ia akan dapat mengambil manfaat dari kegiatan pembelajaran yang diberikan.

3.   Tahap pembuatan keputusan
Kemungkinan keputusan yang diambil adalah meneruskan niat dengan melakukan perbuatan; menunda niat; atau membatalkan niat dan tidak menindak lanjuti dengan perbuatan.

4.   Tahap tindakan
Pembelajar melaksanakan kegiatan pembelajaran yang telah diputuskan untuk dilakukan.

5.   Tahap penilaian
Apakah tindakan belajar berjalan lancar dan tidak terlalu menyulitkan dalam bandingannya dengan hasil yang diperolehnya.


H.  Kelebihan dan Kelemahan Belajar Mandiri
a)   Membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab
b)   Peserta didik mendapatkan kepuasan belajar melalui tugas-tugas yang diselesaikan
c)   Peserta didik mendapatkan pengalaman dan keterampilan dalam hal penelusuran literatur, penelitian, analisis dan pemecahan masalah, jika dalam menyelesaikan tugas-tugasnya peserta didik berkelompok menjadi semakin bertambah, karena melalui kelompok tesebut peserta didik akan belajar tentang kerja sama, kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
d)   Mencapai tujuan akhir dan pendidikan yaitu peserta didik dapat menjadi guru bagi dirinya sendiri.

Kelemahannya dari pembelajaran ini adalah :
a)   Bila diterapkan kepada peserta didik yang belum dewasa, ia belum bisa belajar secara mandiri (masih memerlukan bimbingan).
b)   Apa yang didapat dalam pembelajaran mandiri masih belum tentu benar,  maka perlu melakukan pertanyaan atau diskusi.